“Pengembangan Ekonomi Kreatif Sebagai Penggerak Industry Pariwisata Bali

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1 PENGERTIAN EKONOMI KREATIF

Ekonomi kreatif adalah Mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan ide dan stock of knowledge dari Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai faktor produksi utama dalam kegiatan ekonominya. Struktur perekonomian dunia mengalami transformasi dengan cepat seiring dengan pertumbuhan ekonomi, dari yang tadinya berbasis Sumber Daya Alam (SDA) sekarang menjadi berbasis SDM, dari era pertanian ke era industri dan informasi. Alvin Toffler (1980) dalam teorinya melakukan pembagian gelombang peradaban ekonomi kedalam tiga gelombang. Gelombang pertama adalah gelombang ekonomi pertanian. Kedua, gelombang ekonomi industri. Ketiga adalah gelombang ekonomi informasi. Kemudian diprediksikan gelombang keempat yang merupakan gelombang ekonomi kreatif dengan berorientasi pada ide dan gagasan kreatif.

Menurut ahli ekonomi Paul Romer (1993), ide adalah barang ekonomi yang sangat penting, lebih penting dari objek yang ditekankan di kebanyakan model-model ekonomi. Di dunia dengan keterbatasan fisik ini, adanya penemuan ide-ide besar bersamaan dengan penemuan jutaan ide-ide kecil-lah yang membuat ekonomi tetap tumbuh. Ide adalah instruksi yang membuat kita mengkombinasikan sumber daya fisik yang penyusunannya terbatas menjadi lebih bernilai. Romer juga berpendapat bahwa suatu negara miskin karena masyarakatnya tidak mempunyai akses pada ide yang digunakan dalam perindustrian nasional untuk menghasilkan nilai ekonomi.

Howkins (2001) dalam bukunya The Creative Economy menemukan kehadiran gelombang ekonomi kreatif setelah menyadari pertama kali pada tahun 1996 ekspor karya hak cipta Amerika Serikat mempunyai nilai penjualan sebesar US$ 60,18 miliar yang jauh melampaui ekspor sektor lainnya seperti otomotif, pertanian, dan pesawat. Menurut Howkins ekonomi baru telah muncul seputar industri kreatif yang dikendalikan oleh hukum kekayaan intelektual seperti paten, hak cipta, merek, royalti dan desain. Ekonomi kreatif merupakan pengembangan konsep berdasarkan aset kreatif yang berpotensi meningkatkan pertumbuhan ekonomi. (Dos Santos, 2007).

Konsep Ekonomi Kreatif ini semakin mendapat perhatian utama di banyak negara karena ternyata dapat memberikan kontribusi nyata terhadap perekonomian. Di Indonesia, gaung Ekonomi Kreatif mulai terdengar saat pemerintah mencari cara untuk meningkatkan daya saing produk nasional dalam menghadapi pasar global. Pemerintah melalui Departemen Perdagangan yang bekerja sama dengan Departemen Perindustrian dan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) serta didukung oleh KADIN kemudian membentuk tim Indonesia Design Power 2006 2010 yang bertujuan untuk menempatkan produk Indonesia menjadi produk yang dapat diterima di pasar internasional namun tetap memiliki karakter nasional. Setelah menyadari akan besarnya kontribusi ekonomi kreatif terhadap negara maka pemerintah selanjutnya melakukan studi yang lebih intensif dan meluncurkan cetak biru pengembangan ekonomi kreatif.

 

2.2 SUB SEKTOR INDUSTRI KREATIF

industri kreatif dapat dikelompokkan menjadi 14 subsektor. Menurut Departemen Perdagangan Republik Indonesia dalam buku Pengembangan Industri Kreatif Menuju Visi Ekonomi Kreatif 2025, ke 14 subsektor industri kreatif Indonesia adalah :

 

1. Periklanan (advertising)

Definisi periklanan menurut beberapa sumber adalah sebagai berikut:

a. Kegiatan kreatif yang berkaitan jasa periklanan (komunikasi satu arah dengan menggunakan medium tertentu), yang meliputi proses kreasi, produksi dan distribusi dari iklan yang dihasilkan, misalnya: perencanaan komunikasi iklan, iklan luar ruang, produksi material iklan, promosi, kampanye relasi publik, tampilan iklan di media cetak (surat kabar, majalah) dan elektronik (televisi dan radio), pemasangan berbagai poster dan gambar, penyebaran selebaran, pamflet, edaran, brosur dan reklame sejenis, distribusi dan delivery advertising materials atau samples, serta penyewaan kolom untuk iklan.

 

b. segala bentuk pesan tentang suatu produk disampaikan melalui suatu media, dibiayai oleh pemrakarsa yang dikenal, serta ditujukan kepada sebagian atau seluruh masyarakat.

 

c. deskripsi atau presentasi dari produk, ide ataupun organisasi untuk membujuk individu untuk membeli, mendukung atau sepakat atas suatu hal.

 

2. Arsitektur

           

Definisi jasa arsitektur menurut Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 2005 adalah jasa konsultasi arsitek, yaitu mencakup usaha seperti: desain bangunan, pengawasan konstruksi, perencanaan kota, dan sebagainya. Selain itu sub-sektor Arsitektur Yaitu kegiatan kreatif yang berkaitan dengan desain bangunan secara menyeluruh baik dari level makro (town planning, urban design, landscape architecture) sampai level mikro (detail konstruksi). Misalnya arsitektur taman, perencanaan kota, perencanaan biaya konstruksi, konservasi bangunan warisan, pengawasan konstruksi, perencanaan kota, konsultasi kegiatan teknik dan rekayasa seperti bangunan sipil dan rekayasa mekanika dan elektrikal.

 

3. Pasar Barang Seni

Yaitu kegiatan kreatif yang berkaitan dengan perdagangan barang-barang asli, unik dan langka serta memiliki nilai estetika seni yang tinggi melalui lelang, galeri, toko, pasar swalayan, pasar tradisional dan internet, meliputi barang-barang musik, percetakan, kerajinan, automobile, dan film.

 

4. Kerajinan (craft)

 

Industri Kreatif subsektor kerajinan adalah kegiatan kreatif yang berkaitan dengan kreasi, produksi dan distribusi produk yang dibuat dan dihasilkan oleh tenaga pengrajin yang berawal dari desain awal sampai dengan proses penyelesaian produknya, antara lain meliputi barang kerajinan yang terbuat dari: batu berharga, serat alam maupun buatan, kulit, rotan, bambu, kayu, logam (emas, perak, tembaga, perunggu, besi) kayu, kaca, porselin, kain, marmer, tanah liat, dan kapur. Berdasarkan bahan baku (raw material), produk kerajinan dikategorikan menjadi:

 

1. Ceramic (seperti tanah liat, erathen ware, pottery, stoneware, porcelain)

2. Logam (seperti emas, perak, perunggu, besi, tembaga)

3. Natural fiber, serat alam (bambu, akar-akaran, rotan)

4. Batu-batuan (seperti batu mulia, semi precious stone, jade)

5. Tekstil (seperti cotton, sutra, linen)

 

6. Kayu (seperti seni ukiran dan lacquer  ware)

           

5. Desain

           

Yaitu kegiatan kreatif yang terkait dengan kreasi desain grafis, desain interior, desain produk, desain industri, konsultasi identitas perusahaan dan jasa riset pemasaran serta produksi kemasan dan jasa pengepakan. Contohnya : kerajinan perak

6. Fesyen (fashion)

 

Industri Kreatif Subsektor fesyen/mode adalah kegiatan kreatif yang terkait dengan kreasi desain pakaian, desain alas kaki, dan desain aksesoris mode lainnya, produksi pakaian mode dan aksesorisnya, konsultansi lini produk fesyen, serta distribusi produk fesyen.

 

7. Video, Film dan Fotografi

 

Industri Kreatif Subsektor film, video, dan fotografi adalah kegiatan kreatif yang terkait dengan kreasi, produksi video, film, dan jasa fotografi, serta distribusi rekaman video, film dan hasil fotografi. Termasuk di dalamnya penulisan skrip, dubbing film, sinematografi, sinetron, dan eksibisi film.

 

8. Permainan Interaktif (game)

 

Industri Kreatif sub sektor permainan interaktif adalah kegiatan kreatif yang berkaitan dengan kreasi, produksi, dan distribusi permainan komputer dan video yang bersifat hiburan, ketangkasan, dan edukasi. Sub sektor permainan interaktif bukan didominasi sebagai hiburan semata-mata tetapi juga sebagai alat bantu pembelajaran atau edukasi. Menurut beberapa sumber, industri permainan interaktif didefinisikan sebagai permainan yang memiliki kriteria sebagai berikut:

a. Berbasis elektronik baik berupa aplikasi software pada komputer (online maupun stand alone), console(Playstation, XBOX, Nitendo dll), mobile handset dan arcade.

 

b. Bersifat menyenangkan (fun) dan memiliki unsur kompetisi (competition)

 

c. Memberikan feedback/interaksi kepada pemain, baik antar pemain atau pemain dengan alat (device)

 

d. Memiliki tujuan atau dapat membawa satu atau lebih konten atau muatan. Pesan yang disampaikan bervariasi misalnya unsur edukasi, entertainment, promosi produk (advertisement) sampai kepada pesan yang destruktif.

 

9. Musik

Industri Kreatif sub sektor musik adalah kegiatan kreatif yang berkaitan dengan kreasi/komposisi, pertunjukan musik, reproduksi, dan distribusi dari rekaman suara. Seiring dengan perkembangan industri musik ini yang tumbuh sedemikian pesatnya, maka Klasifikasi Baku Lapangan Indonesia 2005 (KBLI) perlu dikaji ulang, yaitu terkait dengan pemisahan lapangan usaha distribusi reproduksi media rekaman, manajemen-representasi-promosi (agensi) musik, jasa komposer, jasa pencipta lagu dan jasa penyanyi menjadi suatu kelompok lapangan usaha sendiri.

10. Seni Pertunjukan (showbiz)

Industri Kreatif kelompok seni pertunjukan meliputi kegiatan kreatif yang berkaitan dengan usaha yang berkaitan dengan pengembangan konten, produksi pertunjukan, pertunjukan balet, tarian tradisional, tarian kontemporer, drama, musik-tradisional, musik-teater, opera, termasuk tur musik etnik, desain dan pembuatan busana pertunjukan, tata panggung, dan tata pencahayaan.

11. Penerbitan dan Percetakan

Industri Kreatif subsektor penerbitan dan percetakan meliputi kegiatan kreatif yang terkait dengan penulisan konten dan penerbitan buku, jurnal, koran, majalah, tabloid, dan konten digital serta kegiatan kantor berita.

12. Layanan Komputer dan Piranti Lunak (software)

Industri Kreatif sub sektor layanan komputer dan piranti lunak meliputi kegiatan kreatif yang terkait dengan pengembangan teknologi informasi termasuk jasa layanan komputer, pengembangan piranti lunak, integrasi sistem, desain dan analisis sistem, desain arsitektur piranti lunak, desain prasarana piranti lunak dan piranti keras, serta desain portal.

13. Televisi & Radio (broadcasting)

Industri Kreatif kelompok televisi dan radio meliputi kegiatan kreatif yang berkaitan dengan usaha kreasi, produksi dan pengemasan, penyiaran, dan transmisi televisi dan radio.

14. Riset dan Pengembangan (R&D)

Industri Kreatif subsektor riset dan pengembangan meliputi kegiatan kreatif yang terkait dengan usaha inovatif yang menawarkan penemuan ilmu dan teknologi dan penerapan ilmu dan pengetahuan tersebut untuk perbaikan produk dan kreasi produk baru, proses baru, material baru, alat baru, metode baru, dan teknologi baru yang dapat memenuhi kebutuhan pasar. Akan tetapi, definisi riset dan pengembangan tersebut menurut masukan dari beberapa sumber dipandang belum cukup merefleksikan aktivitas riset dan pengembangan yang sesungguhnya. Definisi dari komoditi riset dan pengembangan mempunyai landasan regulasi sendiri yaitu UU No. 18 tahun 2002. Definisi riset dan pengembangan menurut UU No. 18/2002 tentang Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi adalah: Penelitian adalah kegiatan yang dilakukan menurut kaidah dan metode ilmiah secara sistematis untuk memperoleh informasi, data, dan keterangan yang berkaitan dengan pemahaman dan pembuktian kebenaran atau ketidakbenaran suatu asumsi dan/atau hipotesis di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi serta menarik kesimpulan ilmiah bagi keperluan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pengembangan adalah kegiatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bertujuan memanfaatkan kaidah dan teori ilmu pengetahuan yang telah terbukti kebenarannya untuk meningkatkan fungsi, manfaat, dan aplikasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada, atau menghasilkan teknologi baru. Dalam hal ini, perlu untuk melakukan penyamaan persepsi mengenai definisi ini.

 

 

2.3 Beberapa Alasan Pengembangan Industry Kreatif Di Indonesia

            Bila dilihat luasan cakupan ekonomi kreatif tersebut, sebagian besar merupakan sektor ekonomi yang tidak membutuhkan skala produksi dalam jumlah besar. Tidak seperti industri manufaktur yang berorientasi pada kuantitas produk, industri kreatif lebih bertumpu pada kualitas sumber daya manusia. Industri kreatif justru lebih banyak muncul dari kelompok industri kecil menengah. Sebagai contoh, adalah industri kreatif berupa distro yang sengaja memproduksi desain produk dalam jumlah kecil. Hal tersebut lebih memunculkan kesan eksklusifitas bagi konsumen sehingga produk distro menjadi layak untuk dibeli dan bahkan dikoleksi. Hal yang sama juga berlaku untuk produk garmen kreatif lainnya, seperti Dagadu dari Jogja atau Joger dari Bali. Kedua industri kreatif tersebut tidak berproduksi dalam jumlah besar namun ekslusifitas dan kerativitas desain produknya digemari konsumen.

             Walaupun tidak menghasilkan produk dalam jumlah banyak, industri kreatif mampu memberikan kontribusi positif yang cukup signifikan terhadap perekonomian nasional. Depertemen Perdagangan (2008) mencatat bahwa kontribusi industri kreatif terhadap PDB di tahun 2002 hingga 2006 rata-rata mencapai 6,3% atau setara dengan 152,5 trilyun jika dirupiahkan. Industri kreatif juga sanggup menyerap tenaga kerja hingga 5,4 juta dengan tingkat partisipasi 5,8%. Dari segi ekspor, industri kreatif telah membukukan total ekspor 10,6% antara tahun 2002 hingga 2006.

              Merujuk pada angka-angka tersebut di atas, ekonomi kreatif sangat potensial dan penting untuk dikembangkan di Indonesia. Dr. Mari Elka Pangestu dalam Konvensi Pengembangan Ekonomi Kreatif 2009-2015 menyebutkan beberapa alasan mengapa industri kreatif perlu dikembangkan di Indonesia, antara lain :

 

1.      Memberikan kontibusi ekonomi yang signifikan

a.       PDB

b.      Menciptakan lapangan pekerjaan

c.       Ekspor

 

 

 

2.      Menciptakan iklim bisnis yang positif

a.       Penciptaan lapangan usaha

b.      Dampak bagi sector lain

c.       Pemasaran

 

3.      Membangun citra dan identitas bangsa

a.       Turisme

b.      Ikon nasional

c.       Membangun budaya, warisan budaya dan nilai lokal

 

4.      Berbasis kepada sumber daya yang terbarukan

a.       Berbasis pengetahuan, kreatifitas

b.      Green community

 

5.      Menciptakan inovasi dan kreativitas yang merupakan keunggulan kompetitif suatu bangsa

a.       Ide dan gagasan

b.      Penciptaan nilai

 

6.      Memberikan dampak sosial yang positif

a.       Kualitas hidup

b.      Pemerataan kesejahteraan

c.       Peningkatan toleransi social

 

Salah satu alasan dari pengembangan industri kreatif adalah adanya dampak positif yang akan berpengaruh pada kehidupan sosial, iklim bisnis, peningkatan ekonomi, dan juga berdampak para citra suatu kawasan tersebut.

               Dalam konteks pengembangan ekonomi kreatif pada kota-kota di Indonesia, industri kreatif lebih berpotensi untuk berkembang pada kota-kota besar atau kota-kota yang telah “dikenal”. Hal ini terkait dengan ketersediaan sumber daya manusia yang handal dan juga tersedianya jaringan pemasaran yang lebih baik dibanding kota-kota kecil. Namun demikian, hal itu tidak menutup kemungkinan kota-kota kecil di Indonesia untuk mengembangkan ekonomi kreatif. Bagi kota-kota kecil, strategi pengembangan ekonomi kreatif dapat dilakukan dengan memanfaatkan landmark kota atau kegiatan sosial seperti festival sebagai venue untuk mengenalkan produk khas daerah (Susan, 2004).

 

2.4 Ekonomi Kreatif Dan Pengembangan Wisata Pulau   Bali

Pariwisata didefinisikan sebagai aktivitas perjalanan yang dilakukan untuk sementara waktu dari tempat tinggal semula ke daerah tujuan dengan alasan bukan untuk menetap atau mencari nafkah melainkan hanya untuk bersenang senang, memenuhi rasa ingin tahu, menghabiskan waktu senggang atau waktu libur serta tujuan tujuan lainnya (UNESCO, 2009). Sedangkan menurut UU No.10/2009 tentang Kepariwisataan, yang dimaksud dengan pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung oleh berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan masyarakat, pengusaha, Pemerintah, dan Pemerintah Daerah. Seseorang atau lebih yang melakukan perjalanan wisata serta melakukan kegiatan yang terkait dengan wisata disebut Wisatawan. Wisatawan dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu wisatawan nusantara dan wisatawan mancanegara. Wisatawan nusantara adalah wisatawan warga negara Indonesia yang melakukan perjalanan wisata sementara wisatawan mancanegara ditujukan bagi wisatawan warga negara asing yang melakukan perjalanan wisata.

 

Untuk mengembangkan kegiatan wisata, daerah tujuan wisata setidaknya harus memiliki komponen-komponen sebagai berikut (UNESCO, 2009) :

1. Obyek/atraksi dan daya tarik wisata

2. Transportasi dan infrastruktur

3. Akomodasi (tempat menginap)

4. Usaha makanan dan minuman

5. Jasa pendukung lainnya (hal-hal yang mendukung kelancaran berwisata misalnya biro perjalanan yang mengatur perjalanan wisatawan, penjualan cindera mata, informasi, jasa pemandu, kantor pos, bank, sarana penukaran uang, internet, wartel, tempat penjualan pulsa, salon, dll)

Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia sebelumnya telah menetapkan program yang disebut dengan Sapta Pesona. Sapta Pesona mencakup 7 aspek yang harus diterapkan untuk memberikan pelayanan yang baik serta menjaga keindahan dan kelestarian alam dan budaya di daerah kita. Program Sapta Pesona ini mendapat dukungan dari UNESCO (2009) yang menyatakan bahwa setidaknya 6 aspek dari tujuh Sapta Pesona harus dimiliki oleh sebuah daerah tujuan wisata untuk membuat wisatawan betah dan ingin terus kembali ke tempat wisata, yaitu: Aman; Tertib; Bersih: Indah; Ramah; dan Kenangan.

                Ekonomi kreatif dan sektor wisata merupakan dua hal yang saling berpengaruh dan dapat saling bersinergi jika dikelola dengan baik (Ooi, 2006). Konsep kegiatan wisata dapat didefinisikan dengan tiga faktor, yaitu :

a)      Something to see terkait dengan atraksi di daerah tujuan wisata, seperti Pesta Kesenian Bali, Kuta Karnival, Barong Dance.

b)      something to do terkait dengan aktivitas wisatawan di daerah wisata

c)      something to buy terkait dengan souvenir khas yang dibeli di daerah wisata sebagai memorabilia pribadi wisatawan. Dalam tiga komponen tersebut, ekonomi kreatif dapat masuk melalui something to buy dengan menciptakan produk-produk inovatif khas daerah.

Pada era tradisional, souvenir yang berupa memorabilia hanya terbatas pada foto polaroid yang menampilkan foto sang wisatawan di suatu obyek wisata tertentu. Seiring dengan kemajuan tekonologi dan perubahan paradigma wisata dari sekedar “melihat” menjadi “merasakan pengalaman baru”, maka produk-produk kreatif melalui sektor wisata mempunyai potensi yang lebih besar untuk dikembangkan. Ekonomi kreatif tidak hanya masuk melalui something to buy tetapi juga mulai merambah something to do dan something to see melalui paket-paket wisata yang menawarkan pengalaman langsung dan interaksi dengan kebudayaan lokal.

Penerapan strategi pengembangan ekonomi kreatif melalui sektor wisata ini telah diterapkan di beberapa wilayah.

               Dalam pengembangan ekonomi kreatif melalui sektor wisata yang dijelaskan lebih lanjut oleh Yozcu dan İçöz (2010), kreativitas akan merangsang daerah tujuan wisata untuk menciptakan produk-produk inovatif yang akan memberi nilai tambah dan daya saing yang lebih tinggi dibanding dengan daerah tujuan wisata lainnya. Dari sisi wisatawan, mereka akan merasa lebih tertarik untuk berkunjung ke daerah wisata yang memiliki produk khas untuk kemudian dibawa pulang sebagai souvenir. Di sisi lain, produk-produk kreatif tersebut secara tidak langsung akan melibatkan individual dan pengusaha enterprise bersentuhan dengan sektor budaya. Persentuhan tersebut akan membawa dampak positif pada upaya pelestarian budaya dan sekaligus peningkatan ekonomi serta estetika lokasi wisata.

Salah satu pengembangan ekonomi kreaatif yang strategis adalah Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya Lokal. Menumbuhkembangkan ekonomi kreatif tak bisa lepas dari budaya setempat. Budaya harus menjadi basis pengembangannya. Dalam kebudayaan lokal ada yang disebut dengan kearifan lokal yang menjadi nilai-nilai bermakna, antara lain, diterjemahkan ke dalam bentuk fisik berupa produk kreatif daerah setempat. Pulau bali terkenal dengan keanekaragaman budayanya  sehingga sangat tepat jika dikembangkan kegiatan kegiatan untuk menunjang pariwisata bali. Adapun usaha yang bisa dilakukan adalah sebagai berikut :

 

2.4.1 Pengembangan Ekonomi Kreatif Untuk Menunjang Pariwisata Bali  Melalui  “Something To See”.

           Budaya Seni Pertunjukan Tradisional adalah elemen budaya yang paling konkret yang bisa segera ditawarkan kepada wisatawan karena sifat universal seni tari dan musik sebagai pengiringnya lebih mudah untuk dinikmati (diapresiasi) wisatawan tanpa perlu keterlibatan yang mendalam; dan mudah dipaket/dikemas untuk didatangkan ke hotel-hotel, termasuk dipertontonkan ke luar negeri dalam wujud misi kesenian untuk promosi pariwisata. Reputasi seni pertunjukan tradisional Bali sudah diakui secara luas baik oleh para spesialis maupun wisatawan kebanyakan. Seni pertunjukan adalah salah satu aset terpenting bagi citra pariwisata budaya.

            Secara umum seni pertunjukan Bali dapat dikatagorikan menjadi tiga: wali (seni pertunjukan sakral) yang hanya dilakukan saat ritual pemujaan; bebali pertunjukan yang diperuntukkan untuk upacara tetapi juga untuk pengunjung; dan balih-balihan yang sifatnya untuk hiburan belaka di tempat-tempat umum. Pengkatagorian ini ditegaskan pada tahun 1971 oleh Majelis Pertimbangan dan Pembinaan Kebudayaan (LISTIBIYA) Bali sebagai respon dari semakin merambahnya pertunjukan untuk pariwisata ke seni-seni yang sifatnya sakral. Pertemuan ini merekomendasikan agar kesenian yang sifatnya wali dan bebali tidak dikomersialkan. Bandem dan deBoer dalam bukunya Kaja and Kelod: Balinese Dance in Transition secara rinci mengklasifikasi berbagai seni pertunjukan yang ada di Bali hingga awal tahun 1980-an. Tergolong ke dalam wali misalnya: Berutuk, Sang Hyang Dedari, Rejang dan Baris Gede; bebali seperti: Gambuh, Topeng Pajegan, Wayang Wong; dan balih-balihan diantaranya: Legong, Parwa, Arja, Prembon, dan Joged.

           Bisa dibayangkan bahwa pertunjukan drama dan tari sering tidak sepenuhnya bisa difahami oleh para wisatawan terutama karena faktor bahasa; disamping pada umumnya jadwal tour wisatawan yang padat. Karena itu intervensi dilakukan oleh agen perjalanan wisata agar pertunjukan bisa dipersingkat ke format yang lebih bisa dimengerti dan dinikmati oleh wisatawan. Genre-genre campuran mulai bermunculan yang mengkombinasikan genre satu dengan yang lain, misalnya Cak sebagai perpaduan cerita Ramayana dengan vokal dari Sang Hyang Dedari yang dilakukan oleh Spies dan seorang penari bernama Limbak; atau tari Barong dan Kris dengan cuplikan dari Mahabarata. Pertunjukan yang biasanya berdurasi satu jam. Disamping itu juga bermunculan tari-tari lepas (tari yang berdiri sendiri, tidak merupakan bagian dari drama); dan paket pementasan yang menggabungkan berbagai tari lepas dari genre topeng, baris, legong dan lainnya. Seni pertunjukan Bali yang sifatnya sakral biasanya memiliki nilai eksotisme dan magis sehingga dicari-cari oleh wisatawan. Ada ketergiuran para penyedia jasa pariwisata pun kemudian menawarkan paket-paket tiruan seni sakral tersebut. Pertunjukan barong-rangda dengan unying (tari keris) adalah salah satu contoh klasik profanisasi yang terjadi (Lihat Bandem dan deBoer 1981: 145-150).

              Kiranya idealisme untuk tidak mengkomersialkan tari wali dan bebali tidak bisa dijalankan sepenuhnya. Sekarang pertunjukan-pertunjukan untuk pariwisata sudah mulai mepertontonkan imitasi tari Sang Hyang Dedari; Sang Hyang Jaran, Calonarang, dan sebagainya. Dan yang terakhir berkembang adalah istilah pertunjukan kemasan baru sebagai gabungan aspek prosesi ritual dengan pagelaran berbagai jenis pertunjukan secara simultan seperti wayang, tari cak api, joged bungbung, dan pertunjukan selama makan malam berupa legong, beberapa tari lepas dan drama tari barong. Pertunjukan seperti ini kerap dilakukan dalam paket wisata puri (keraton) berupa royal dinner seperti yang dilakukan di puri Mengwi, Kerambitan dan ditiru oleh puri-puri lain. Hotel-hotel besar ketika menyelengarakan konvensi atau gala dinner juga kerap memakai pertunjukan kemasan baru. Tekanan pasar untuk senantiasa menawarkan sesuatu yang baru akhirnya berpengaruh pada penciptaan jenis-jenis pertunjukan baru.

2.4.2 Pengembangan Ekonomi Kreatif Untuk Menunjang Pariwisata Bali  Melalui  “Something To Do”.

            Tempat suci serta alamnya yang sangat indah sangat mendukung Bali sebagai destinasi wisata spiritual kelas dunia. Pura besakih merupakan tempat yang sangat disucikan oleh umat Hindu. Bali, dalam lima tahun terakhir mulai berkembang spiritual tourism (wisata spiritual).  Wisata spiritual merupakan  tren baru, dan bentuk pariwisata yang berkualitas. Kini, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif melirik potensi ini, potensi pasarnya semakin luas di seluruh dunia. “Spiritual tourism trend baru sekaligus pariwisata yang berkualitas untuk dikembangan di masa mendatang,” kata Kepala Badan Pengembangan Sumberdaya Pariwisata Kemenparekraf, Prof. Dr. Gde Pitana dalam suatu seminar  di Denpasar, belum lama ini.

            Spiritual Tourism sebagai bentuk pariwisata berkualitas karena dalam praktiknya sangat menghargai budaya lokal, mencintai alam dan lingkungan, serta sebagian besar turisnya berasal dari kalangan yang berpendidikan. Potensi spiritual tourism untuk dikembangkan di Indonesia sangat besar karena Indonesia memiliki sejumlah destinasi yang cocok untuk itu terutama Bali. “Apalagi di Bali sangat layak untuk spiritual tourism. Alamnya sangat cocok, bisa di pantai, bisa juga di gunung (nyegara gunung). Belakangan ini di seluruh dunia, tren spirituality makin meningkat, banyak yang tidak mendiskusikan agama melainkan berbicara spiritual. Mereka mencari peace and harmony,”

              komunitas spiritual tourism saat ini sudah mulai meluas dan kerap menjadikan Indonesia sebagai salah satu tujuannya. Bahkan pada September 2012, rencananya akan digelar acara besar bertajuk “Bali International Meditator Summit” dan “Bali International Yoga Conference”. “Dalam kebijakan saat ini pengembangan spiritual tourism masuk dalam cultural heritage tourism. Dr. Somvir  dari Bali Indian Foundation  (BIF)  pernah mengungkapkan destinasi Bali kini mulai dilirik wisatawan sebagai wisata spiritual. Banyak wisatawan asal Eropa tertarik untuk berlatih yoga dan meditasi (pemusatan pikiran) saat berlibur di Bali.  “Mereka berada di Bali hingga tiga bulan lamanya, melakukan kegiatan yoga dan meditasi, di samping menikmati keunikan seni budaya dan panorama alam Pulau Dewata. Hotel-hotel perlu memprogramkan seperti aktivitas Yoga atau program spiritual tour untuk berkunjung ke kawasan yang layak untuk melakukan aktivitas spiritual seperti meditasi, yoga dan lain-lain. Tidak lagi hanya dalam wacana tapi perlu “action” yang kongkrit. Contohnya;  kawasan di sekitar Pura Besakih bisa dijadikan sebagai salah satu tempat untuk kawasan spiritual.

            Bali memiliki potensi sangat besar untuk pengembangan wisata spiritual. Sebab, Pulau Bali didukung keberadaan tempat ibadah seperti Pura Sad Kahyangan, Dang Kahyangan, dan Kahyangan Tiga. “Julukan Bali sebagai Pulau Seribu Pura (Land of One Thousand Temples), menjadi kekuatan bagi untuk mengembangkan wisata spiritual. Hal ini tidaklah berlebihan, karena jumlah pura di Bali saat ini tercatat lebih dari 20 ribu unit,” Pengembangan wisata spiritual di Bali saat ini belum digarap dengan maksimal. Sejumlah daerah di Bali memang mulai melirik pengembangan wisata spiritual ini. Misalnya, Pemkab Gianyar yang telah menjadikan pura sebagai objek wisata spiritual. Promosi pun gencar dilakukan, khususnya untuk pura yang telah ditetapkan sebagai objek wisata spiritual seperti Pura Tirtha Empul, Pura Goa Gajah, Pura Gunung Kawi, di Desa Sebatu, Pura Masceti, Pura Medahan dan Pura Keramas.

          Di Bali dari sekian banyak pasraman sebagai tempat dan melatih kegiatan yoga dan meditasi bagi wisatawan mancanegara adalah ashram Telaga Mas Ratu Bagus Desa Muncan, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem.Ashram yang dibangun dalam lingkungan desa yang kondisinya masih asri dan lestari itu lokasinya tidak begitu jauh dari kawasan suci Pura Besakih, tempat suci umat Hindu terbesar di Pulau Dewata. Bali mewarisi gerakan-gerakan yoga dengan jurus-jurus yang beragam dan unik, serta kolaborasi dengan silat, gerakan bela diri, sehingga dinilai mempunyai keistimewa dibanding yoga secara umum. Yoga kolaborasi dengan silat itu seperti yang ditampilkan dalam Bali Internasional Festival Yoga Meditasi memiliki lebih dari 100 gerakan, sehingga menjadikan Bali memiliki potensi yoga cukup besar di tingkat nasional maupun internasional.Demontrasi yoga yang ditampilkan utusan dari 13 pasraman di Bali itu masing-masing dikemas dalam suguhan seni, satu sama lainnya berbeda, semuanya warisan dari para leluhur yang hingga kini masih dapat dilestarikan.Unjuk kemampuan yoga dari masing-masing pasraman itu juga dikombinasikan dengan penampilan seni tari Siddha Urif garapan pasraman Ratu Bagus Karangasem, persembahan seni dari Yayasan Anand Krishna Ashram, barong sai dan kesenian Bali topeng bondres. Festival yoga itu juga dimeriahkan dengan ritual Homa Yadnya (agni Hotra) yang melibatkan seluruh peserta, baik dari mancanegara maupun peserta lokal di Bali. Semua kegiatan itu diharapkan mampu mendukung Pulau Dewata sebagai salah satu tujuan wisata spiritual.

2.4.3 Pengembangan Ekonomi Kreatif Untuk Menunjang Pariwisata Bali  Melalui  “Something To Buy”.

            Salah satu produk yang terkenal dari Indonesia adalah produk tenun. Tenun adalah warisan budaya dan jati diri bangsa Indonesia. Permintaan akan kain-kain tenun terus meningkat tiap tahun . Banyak orang-orang dari mancan negara dating ke Indonesia untuk membeli produk-produk tenun baik untuk barang koleksi maupun untuk dijual lagi di Negaranya . Jadi produk tenun ini sangat berpeluang untuk dikembangkan dan menjadi salah satu alternatif  untuk menciptakan produk ekonomi kreatif .

Banyak daerah yang menghasilkan kerajinan tenun di Indonesia , salah satunya adalah provinsi Bali , khususnya di Kabupaten Karangasem . Di Bali terdapat perusahaan yang menghasilkan produk tenun yaitu Bali Arta Nadi . Perusahaan ini memproduksi berbagai jenis kain tenun yaitu endek , songket . Kain-kain ini banyak digemari oleh para wisatawan . Perusahaan Bali Arta Nadi selain mempunyai usaha produk tenun , juga mempunyai beberapa fasilitas akomodasi wisata seperti villa . Hal ini akan meningkatkan perkembangan pariwisata karangasem , serta meningkatkan omset penjualan produk tenun  . Jika di lihat dari sector pariwisata produksi tenun inilah yang mendatangkan wisatawan , sehingga produksi tenun merupakan salah satu sektor ekonomi kreatif  yang bisa meningkatkan kunjungan wisatawan domestic maupun mancanegara .

2.5 Pengaruh Perkembangan Pariwisata Bali Terhadap Struktur   Perekonomian  dan Kesejahteraan Masyarakat Bali

Dengan berkembangnya sektor pariwisata di Provinsi Bali, yaitu dengan indikator meningkatnya kunjungan wisatawan asing dan domestik serta meningkatnya pendapatan pada subsektor perdagangan hotel dan restoran, menyebabkan sektor jasa meningkat pesat melebihi sektor pertanian dan sector industri. Dengan pesatnya pertumbuhan sektor jasa sebagai akibat dari perkembangan pariwisata, maka terjadi ketidak seimbangan pertumbuhan sektorsektor ekonomi di Provinsi Bali, yang selanjutnya menyebabkan terjadinya perubahan struktur produksi dan struktur penyerapan tenaga kerja dari pertanian ke jasa.

Struktur perekonomian Bali sangat spesifik dan mempunyai karateristik tersendiri dibandingkan dengan propinsi lainnya di Indonesia. Spesifik perekonomian Bali itu dibangun dengan mengandalkan industri pariwisata sebagai leading sector, telah mampu mendorong terjadinya suatu perubahan struktur. Perubahan struktur ekonomi Bali tidak saja dilihat dari segi pendapatan saja, namun juga dari kesempatan kerja. Presentase pekerja di Bali turun setiap tahunnya sebesar 43,12% di sektor pertanian,yang mengalami fluktuasi pertumbuhan penyerapan tenaga kerja dari 2,6% menjadi 1,3%.  Membaiknya pertumbuhan ekonomi Bali menjadi salah satu indikator semakin meningkatkan kesejahteraan masyarakat Pulau Dewata. Sektor pertanian memberikan andil sebesar 18,21 persen, pertambangan dan penggalian 0,65 persen, sektor industri pengolahan 9,16 persen, serta listrik, gas dan air bersih dua persen. Sektor bangunan menyumbang sekitar 4,4 persen, perdagangan, hotel dan restoran 30 persen, angkutan dan komunikasi 13,76 persen, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan 7,11 persen dan sektor jasa-jasa lainnya 14,72 persen. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Bali atas dasar harga berlaku mencapai Rp57,579 miliar selama 2009, meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya Rp49,922 triliun. PDRB perkapita mengalami peningkatan dari Rp14,2 juta pada tahun 2008 menjadi Rp16,21 juta pada akhir 2009.

 

 Perkembangan pariwisata menyebabkan kesejahteraan masyarakat secara tidak langsung meningkat melalui kinerja perekonomian dan perubahan struktur ekonomi yang dihasilkan oleh perkembangan pariwisata. Melalui kinerja perekonomian dan perubahan struktur ekonomi pengaruh perkembangan pariwisata terhadap kesejahteraan masyarakat meningkat menjadi 0,569. Hal ini berarti bahwa pengaruh tidak langsung perkembangan pariwisata tidak langsung meningkat melalui kinerja perekonomian dan perubahan struktur ekonomi adalah sebesar 0,345 yang lebih besar dari koefisien pengaruh langsung yang hanya 0,224. Kesimpulan ini sesuai dengan pendapat Spillane (1989; 47) dan juga Ave (2006) yang mengatakan bahwa pariwisata di samping memberikan dampak langsung juga memberikan dampak tidak langsung dan dampak ikutan (induced effect) terhadap perekonomian. Dampak tidak langsung dinikmati oleh karyawan hotel, restoran, biro perjalanan wisata, objek tujuan wisata, sopir angkutan, penerimaan pajak bagi pemerintah, pengrajin cenderamata, seniman, percetakan, pedagang sayur-sayuran dan buah-buahan, pompa bensin, dan sebagainya. Dampak ikutan antara lain meningkatkan pendapatan bagi petani sayur dan buah-buahan, peternak, pemasok bahan baku untuk barang kerajinan, sektor industri, perdagangan, dan sektor agribisnis.

Tidak adanya pengaruh langsung dan signifikan perkembangan pariwisata terhadap kesejahteraan masyarakat dijelaskan sebagai berikut. Seperti yang dikemukakan oleh Spillane (1989: 47) dan Ave (2006) bahwa industri pariwisata merupakan mata rantai yang sangat panjang, dan dampak langsung dari kunjungan pariwisata adalah hanya terhadap subsektor yang menerima pendapatan dari belanja wisatawan, yaitu: hotel, restoran, biro perjalanan, perdagangan. Karena masyarakat yang bekerja langsung pada sektor pariwisata relatif kecil, yaitu 14,52 persen pada tahun 1980, tahun 1990 sebanyak 15,58 persen, tahun 2000 sebanyak 24,06 persen dan tahun 2004 sebanyak 26,63 persen, sehingga perkembangan pariwisata tidak memberikan pengaruh langsung yang signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Meskipun demikian, pandangan perspektif developmentalist yang dikemukanan oleh Pye dan Lin (1983) menegaskan bahwa industri pariwisata telah banyak menyumbangkan kecepatan, percepatan, dan arah perkembangan di negara-negara berkembang sehingga dianggap sebagai pintu masuk bagi kesejahteraan masyarakat melalui pengaruh tidak langsung.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

http://dppm.uii.ac.id/dokumen/dikti/files/DPPM-UII_07._52-66_Pengembangan_Ekonomi_Kreatif_Sebagai_Penggerak_Industri_Pariwisata.pdf

 

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/31611/4/Chapter%20II.pdf

 

http://arifh.blogdetik.com/ekonomi-kreatif/

 

http://bali-bisnis.com/index.php/wisata-spiritual-wisman-tertarik-yoga-di-bali/

 

http://tourismbali.wordpress.com/2011/04/10/dimensi-ekonomi-pariwisata-kajian-terhadap-dampak-ekonomi-dan-refleksi-dampak-pariwisata-terhadap

 

Iklan

PENGARUH PERKEMBANGAN PARIWISATA TERHADAP STRUKTUR PEREKONOMIAN dan KESEJAHTERAAN MASYARAKAT BALI

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1 Pengertian Pariwisata

Pariwisata atau turisme adalah suatu perjalanan yang dilakukan untuk rekreasi atau liburan, dan juga persiapan yang dilakukan untuk aktivitas ini. Seorang wisatawan atau turis adalah seseorang yang melakukan perjalanan paling tidak sejauh 80 km (50 mil) dari rumahnya dengan tujuan rekreasi, merupakan definisi oleh Organisasi Pariwisata Dunia. Definisi yang lebih lengkap, turisme adalah industri jasa. Mereka menangani jasa mulai dari transportasi, jasa keramahan, tempat tinggal, makanan, minuman, dan jasa bersangkutan lainnya seperti bank, asuransi, keamanan, dll. Pariwisata menawarkan tempat istrihat, budaya, pelarian, petualangan, dan pengalaman baru dan berbeda lainnya. Banyak negara, bergantung banyak dari industri pariwisata ini sebagai sumber pajak dan pendapatan untuk perusahaan yang menjual jasa kepada wisatawan. Oleh karena itu pengembangan industri pariwisata ini adalah salah satu strategi yang dipakai oleh Organisasi Non-Pemerintah untuk mempromosikan wilayah tertentu sebagai daerah wisata untuk meningkatkan perdagangan melalui penjualan barang dan jasa kepada orang non-lokal. Menurut Undang Undang No. 10/2009 tentang Kepariwisataan, yang dimaksud dengan pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata yang didukung oleh berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan masyarakat, pengusaha, Pemerintah dan Pemerintah Daerah

2.2 Dampak Pariwisata terhadap Perekonomian 

2.2.1 Dampak positif pariwisata terhadap perekonomian

1. Foreign Exchange Earnings

Pengeluaran sektor pariwisata akan menyebabkan perekonomian masyarakat lokal menggeliat dan menjadi stimulus berinvestasi dan menyebabkan sektor keuangan bertumbuh seiring bertumbuhnya sektor ekonomi lainnya. Pengalaman di beberapa negara bahwa kedatangan wisatawan ke sebuah destinasi wisata juga menyebabkan bertumbuhnya bisnis valuta asing untuk memberikan pelayanan dan kemudahan bagi wisatawan selama mereka berwisata. Tercatat juga bahwa di beberapa negara di dunia 83% dari lima besar pendapatan mereka, 38% pendapatannya adalah berasal dari “Foreign Exchange Earnings” perdagangan valuta asing.  

2. Contributions To Government Revenues

Kontribusi pariwisata terhadap pendapatan pemerintah dapat diuraikan menjadi dua, yakni: kontribusi langsung dan tidak langsung. Kontribusi langsung berasal dari pajak pendapatan yang dipungut dari para pekerja pariwisata dan pelaku bisnis pariwisata pada kawasan wisata yang diterima langsung oleh dinas pendapatan suatu destinasi. Sedangkan kontribusi tidak langsung pariwisata terhadap pendapatan pemerintah berasal dari pajak atau bea cukai barang-barang yang di import dan pajak yang dikenakan kepada wisatawan yang berkunjung.

3. Employment Generation

Pada beberapa negara yang telah mengembangkan sektor pariwisata, terbukti bahwa sektor pariwisata secara internasional berkontribusi nyata terhadap penciptaan peluang kerja, penciptaan usaha-usaha terkait pariwisata seperti usaha akomodasi, restoran, klub, taxi, dan usaha kerajinan seni souvenir.

             4. Infrastructure Development

Berkembangnya sektor pariwisata juga dapat mendorong pemerintah lokal untuk menyediakan infrastruktur yang lebih baik, penyediaan air bersih, listrik, telekomunikasi, transportasi umum dan fasilitas pendukung lainnya sebagai konsekuensi logis dan kesemuanya itu dapat meningkatkan kualitas hidup baik wisatawan dan juga masyarakat local itu sendiri sebagai tuan rumah. Sepakat membangun pariwisata berarti sepakat pula harus membangun yakni daya tarik wisata “attractions” khususnya daya tarik wisata man-made, sementara untuk daya tarik alamiah dan budaya hanya diperlukan penataan dan pengkemasan. Karena Jarak dan waktu tempuh menuju destinasi “accesable” akhirnya akan mendorong pemerintah untuk membangun jalan raya yang layak untuk angkutan wisata, sementara fasilitas pendukung pariwisata “Amenities” seperti hotel, penginapan, restoran juga harus disiapkan. Pembangunan infrastruktur pariwisata dapat dilakukan secara mandiri ataupun mengundang pihak swasta nasional bahkan pihak investor asing khususnya untuk pembangunan yang berskala besar seperti pembangunan Bandara Internasional, dan sebagainya. Perbaikan dan pembangunan insfrastruktur pariwisata tersebut juga akan dinikmati oleh penduduk lokal dalam menjalankan aktifitas bisnisnya, dalam konteks ini masyarakat local  akan mendapatkan pengaruh positif dari pembangunan pariwisata di daerahnya.

2.2.2 Dampak negative pariwisata terhadap perekonomian

  1. 1.      Enclave Tourism

Enclave tourism” sering diasosiasikan bahwa sebuah destinasi wisata dianggap hanya sebagai tempat persinggahan, sebagai contoh sebuah perjalanan wisata dari manajemen kapal pesiar dimana mereka hanya singgah pada sebuah destinasi tanpa melewatkan malam atau menginap di hotel-hotel yang telah disediakan industri lokal sebagai akibatnya dalam kedatangan wisatawan kapal pesiar tersebut manfaatnya dianggap sangat rendah atau bahkan tidak memberikan manfaat secara ekonomi bagi masyarakat di sebuah destinasi yang dikunjunginya. Kenyataan lain yang  menyebabkan “enclave” adalah kedatangan wisatawan yang melakukan perjalan wisata yang dikelola oleh biro perjalanan wisata asing dari “origin country”  sebagai  contohnya, mereka menggunakan maskapai penerbangan milik perusahaan mereka sendiri, kemudian mereka menginap di sebuah hotel yang di miliki oleh manajemen chain dari negara mereka sendiri, berwisata dengan armada dari perusahaan chain milik pengusaha mereka sendiri, dan dipramuwisatakan oleh pramuwisata dari negerinya sendiri, dan sebagai akibatnya masyarakat lokal tidak memperoleh manfaat ekonomi secara optimal.

  1. 2.      Infrastructure Cost

Tanpa disadari ternyata pembangunan sektor pariwisata yang berstandar internasional dapat menjadi beban biaya tersendiri bagi pemerintah dan akibatnya cenderung akan dibebankan pada sektor pajak dalam artian untuk membangun infratruktur tersebut, pendapatan sektor pajak harus ditingkatkan artinya pngutan pajak terhadap masyarakat harus dinaikkan. Pembangunan pariwisata juga mengharuskan pemerintah untuk meningkatkan kualitas bandara, jalan raya, dan infrastruktur pendukungnya, dan tentunya semua hal tersebut memerlukan biaya yang tidak sedikit dan sangat dimungkinkan pemerintah akan melakukan re-alokasi pada anggaran sektor lainnya seperti misalnya pengurangan terhadap anggaran pendidikan dan kesehatan. Kenyataan di atas menguatkan pendapat Harris dan Harris (1994) yang mengkritisi bahwa analisis terhadap dampak pariwisata harusnya menyertakan faktor standar klasifikasi industri untuk tiap aktifitas pada industri pariwisata yang sering dilupakan pada analisis dampak pariwisata.

  1. 3.      Increase in Prices (Inflation)

Peningkatan permintaan terhadap barang dan jasa dari wisatawan akan menyebabkan meningkatnya harga secara beruntun “inflalsi” yang pastinya akan berdampak negative bagi masyarakat lokal yang dalam kenyataannya tidak mengalami peningkatan pendapatan secara proporsional artinya jika pendapatan masyarakat lokal meningkat namun tidak sebanding dengan peningkatan harga-harga akan menyebabkan daya beli masyarakat lokal menjadi rendah. Pembangunan pariwisata juga berhubungan dengan meningkatnya harga sewa rumah, harga tanah, dan harga-harga property lainnya sehingga sangat dimungkinkan masyarakat lokal tidak mampu membeli dan cenderung akan tergusur ke daerah pinggiran yang harganya masih dapat dijangkau. Sebagai konsukuensi logiz, pembangunan pariwisata juga berdampak pada meningkatnya harga-harga barang konsumtif, biaya pendidikan, dan harga-harga kebutuhan pokok lainnya sehingga pemenuhan akan kebutuhan pokok justru akan menjadi sulit bagi penduduk lokal. Hal ini juga sering dilupakan dalam setiap pengukuran manfaat pariwisata terhadap perekonomian pada sebuah Negara.

  1. 4.      Economic Dependence

Keanekaragaman industri dalam sebuah perekonomian menunjukkan sehatnya sebuah negara, jika ada sebuah negara yang hanya menggantungkan perekonomiannya pada salah satu sektor tertentu seperti pariwisata misalnya, akan menjadikan sebuah negara menjadi tergantung pada sektor pariwisata sebagai akibatnya ketahanan ekonomi menjadi sangat beresiko tinggi. Di beberapa negara, khususnya negara berkembang yang memiliki sumberdaya yang terbatas memang sudah sepantasnya mengembangkan pariwisata yang dianggap tidak memerlukan sumberdaya yang besar namun pada negara yang memiliki sumberdaya yang beranekaragam harusnya dapat juga mengembangkan sektor lainnya secara proporsional. Ketika sektor pariwisata dianggap sebagai anak emas, dan sektor lainnya dianggap sebagai anak tiri, maka menurut Archer dan Cooper (1994), penelusuran tentang manfaat dan dampak pariwisata terhadap ekonomi harusnya menyertakan variabel sosial yang tidak pernah dihitung oleh fakar lainnya. Ketergantungan pada sebuah sektor, dan ketergantungan pada kedatangan orang asing dapat diasosiasikan hilangnya sebuah kemerdekaan sosial dan pada tingkat nasional, sangat dimungkinkan sebuah negara akan kehilangan kemandirian dan sangat tergantung pada sektor pariwisata.

  1. 5.      Seasonal Characteristics

Dalam Industri pariwisata, dikenal adanya musim-musim tertentu, seperti misalnya musim ramai “high season” dimana kedatangan  wisatawan akan mengalami puncaknya, tingkat hunian kamar akan mendekati tingkat hunian kamar maksimal dan kondisi ini akan berdampak meningkatnya pendapatan bisnis pariwisata. Sementara dikenal juga musim sepi “low season” di mana kondisi ini rata-rata tingkat hunian kamar tidak sesuai dengan harapan para pebisnis sebagai dampaknya pendapatan indutri pariwisata juga menurun hal ini yang sering disebut “problem seasonal” Sementara ada kenyataan lain yang dihadapi oleh para pekerja, khususnya para pekerja informal seperti sopir taksi, para pemijat tradisional, para pedagang acung, mereka semua sangat tergantung pada kedatangan wisatawan, pada kondisi low season sangat dimungkinkan mereka tidak memiliki lahan pekerjaan yang pasti. Kenyataan di  atas, menguatkan pendapat West (1993) yang menawarkan SAM atau social accounting matrix untuk memecahkan masalah pariwisata yang saling berhubungan dari waktu ke waktu, kebermanfaatan pariwisata terhadap ekonomi harusnya berlaku proporsional untuk semua musim, baik musim sepi maupun musim ramai wisatawan.

2.3 Sejaharah perkembangan pariwisata bali sampai terkenal ke mancanegara

Sejak penguasaan oleh Belanda, pulau Bali seolah dibuka lebar untuk kunjungan orang asing, Bali tidak saja kedatangan orang asing sebagai pelancong namun tak sedikit para pemerhati dan penekun budaya yang datang mencatat keunikan seni budaya Bali.
Para penekun budaya yang terdiri dari sastrawan, penulis dan pelukis, inilah yang menyebabkan keunikan Bali kian menyebar ke seluruh dunia internasional. Penyampain informasi melalui berbagai media oleh orang asing ternyata mampu menarik minat wisatawan untuk mengunjungi Bali, Kekaguman akan tanah Bali kemudian menggugah minat orang asing memberi gelar kepada Bali sebagai ” The Island of Gods, The Island of Paradise, The Island of Thousand Temples, The Magic of The World, dan berbagai nama pujian lainnya yang bergema menyanjung Bali di dunia pariwisata.

               Tahun 1930, di jantung kota Denpasar dibangun sebuah hotel untuk menampung kedatangan wisatawan ketika itu, Bali hotel yang sekarang bernama Inna Bali Hotel, sebuah bangunan bergaya arsitektur kolonial menjadi tonggak sejarah pariwisata Bali yang hingga kini bangunan tersebut masih berdiri kokoh dalam langgam aslinya. Tidak hanya menerima kunjungan wisatawan tapi juga kunjungan budaya. Duta kesenian bali dari desa Peliatan melakukan kunjungan budaya ke beberapa negara di kawasan Eropa dan Amerika. Secara tidak langsung kunjungan tersebut sekaligus memperkenalkan keberadaan Bali sebagai daerah tujuan wisata yang layak dikunjungi. Kegiatan pariwisata yang mulai mekar ketika itu sempat terhenti akibat terjadinya perang Dunia II antara tahun 1942 -1945 yang kemudian disusul dengan makin sengitnya perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia termasuk perjuangan yang terjadi di Bali hingga tahun 1945.  Pertengahan dasawarsa 50-an pariwisata Bali mulai ditata kembali dan tahun 1963 dibangunlah Hotel Bali Beach yang sekarang bernama Inna Grand Bali Beach di pantai Sanur dengan bangunan berlantai 10. Hotel ini merupakan satu – satunya hunian wisata yang bertingkat di Bali saat itu. Sementara sarana akomodasi wisata lainnya yang berkembang kemudian hanyalah bangunan berlantai satu. Pada pertengahan tahun 1970 pemerintah daerah Bali mengeluarkan Peraturan Daerah yang mengatur ketinggian bangunan maksimal 15 meter. Ketetapan ini ditentukan dengan mempertimbangkan faktor budaya dan tata ruang tradisional Bali sehingga tetap memiliki nilai – nilai budaya yang mampu menjadi tumpuan sektor pariwisata.
               Secara pasti sejak dioperasikannya Inna Grand Bali Beach pada November 1966, pembangunan sarana hunian wisata berkembang dengan pesat. Dari sisi kualitas, Sanur berkembang relatif lebig terencana karena berdampingan dengan Inna Grand Bali Beach Hotel sedangkan kawasan pantai Kuta berkembang secara alamiah bergerak mengikuti model akomodasi setempat. Model homestay dan pansion berkembang lebih dominan dibandingkan dengan model standar hotel. Sama halnya dengan kawasan Ubud di daerah Gianyar berkembang secara alamiah, tumbuh di rumah – rumah penduduk yang tetap bertahan dengan nuansa pedesaannya. Pembangunan sarana akomodasi wisata yang berkelas internasional akhirnya dimulai dengan pengembangan kawasan Nusa Dua menjadi resort wisata internasional. Dikelola oleh Bali Tourism Development Corporation, suata badan bentukan pemerintah, kawasan Nusa Dua dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan pariwisata bertaraf internasional. Beberapa operator hotel masuk ke kawasan Nusa Dua sebagai investor. Pada akhirnya kawasan ini mampu mendongkrak perkembangan pariwisata Bali.

                 Masa – masa berikutnya, sarana hunian wisata lalu tumbuh dengan sangat pesat di pusat akomodasi dan hunian wisata terutama di daerah Badung, Denpasar dan Gianyar. Kawasan pantai Kuta, Jimbaran dan Ungasan menjadi kawasan hunian wisata di Kabupaten Badung. Sanur dan pusat kota untuk kawasan Denpasar. Ubud, Kedewatan, Payangan dan Tegalalang menjadi pengembang akomodasi wisata di daerah Gianyar.Untuk mengendalikan perkembangan yang amat pesat tersebut, pemerintah daerah Bali kemudian menetapkan 15 kawasan di Bali sebagai daerah akomodasi wisata berikut sarana penunjangnya seperti restoran dan pusat perbelanjaan. Hingga kini, Bali telah memiliki lebih dari 35.000 kamar hotel terdiri dari kelas Pondok Wisata, Melati hotel hingga berbintang lima. Sarana hotel – hotel tersebut tampil dalam berbagai variasi bentuk mulai dari model rumah, standar hotel, villa, bungalow dan boutique hotel dengan harga yang bervariasi. Keanekaragam ini memberi nilai lebih bagi Bali karena menawarkan banyak pilihan kepada para pelancong. Perkembangan kunjungan wisatawan membuat sarana wisata penunjang pariwisata tumbuh dengan pesat seperti restoran, art shop, pasar seni, sarana hiburan dan rekreasi

Perkembangan pariwisata khususnya di Bali, sangat mempengaruhi sektor ekonomi. Namun perkembangan ini belum secara menyeluruh ataupun menyentuh seluruh lapisan masyarakat Bali. Sampai saat ini perkembangan pariwisata di Bali lebih terkonsentrasi di Bali Selatan, terutama di Kuta, Sanur dan Nusa Dua, tentunya juga karena pengaruh keberadaan Bandara Internasional Ngurah Rai yang berdekatan dengan lokasi tersebut, kemudian perkembangan pariwisata di Bali selatan ini juga akhirnya menyentuh daerah pecatu yang dulunya lahan yang tidak produktif, banyak berdiri, hotel, resor, villa dan lapangan golf, sehingga secara ekonomi membuka lapangan kerja dan kesempatan berusaha.

Sebagai daerah pariwisata, tentunya karena Bali memiliki banyak objek wisata menarik, begitu juga dengan hasil kreasi budaya yang mempunyai nilai seni tinggi, adat istiadat yang unik dan juga keramah-tamahan penduduk setempat sehingga menambah minat wisatawan untuk mengunjungi Bali. Atraksi wisata yang ada juga bervariasi, baik wisata petualangan, bahari dan banyak lagi yang lainnya, perkembangan sarana transportasi pun sangat beragam, wisatawan bisa memilih angkutan umum, taxi, trasnport freelance, sewa motor ataupun sewa mobil. Data jumlah kunjungan pariwisata ke bali dapat ditunjukkan melalui table di bawah ini:

Tahun

Data

1975

75790

1976

115220

1977

119095

1978

133225

1979

120139

1980

139695

1981

153030

1982

150673

1983

166575

1984

188833

1985

211222

1986

243354

1987

309292

1988

360413

1989

436358

1990

489710

1991

554975

1992

735777

1993

884206

1994

1030944

1995

1014085

1996

1138895

1997

1230316

1998

1187153

1999

1355799

2000

1412839

2001

1356774

2002

1285842

2003

995272

2004

1460420

2005

1388984

2006

1262537

2007

1668531

2008

2085084

2009

2385122

2010

2576142

   

2011

2826709

 

 

Data diatas menunjukan bahwa kunjungan wisatawan trus meningkat setiap tahun, namun terjadi penurunan kunjungan setelah terjadinya bom bali 1. Hal ini ditunjukkan dengan penurunan jumlah wisatawan sekitar 40%. Untuk menanggulangi hal tersebut, maka pemerintah proviunsi Bali beserta pihak-pihak terkait berusaha membenahi sistem keamanan di Bali. Dengan berkembangnya pariwisata Bali maka perlu dilakukan peningkatan pembangunan sarana pendukung seperti hotel-hotel, artshop, restaurant, museum serta pembangunan daerah pedalaman menjadi kawasan wisata alam yang bisa menarik minat para wisatawan untuk berkunjung ke Bali. Selain itu pemerintah juga berupaya meningkatkan keamanan dan kebersihan demi kenyamanan para wisatawan.

 

 

2.4 Kendala – kendala yang dihadapi dalam pengembangan  Pariwisata di  Bali

Bali sebenarnya memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi daerah kunjungan wisata nomer 1 di dunia. Tentu saja hal ini dapat terwujud apabila kita sebagai rakyat Indonesia secara sadar bersama-sama untuk menghargai potensi yang kita miliki ini. Berikut adalah permasalahan-permasalahan di Bali yang perlu menjadi perhatian kita :

a.      Permasalahan sampah dan kebersihan lingkungan

Sampah dan masalah kebersihan di Bali sudah sering kali menjadi keluhan utama para wisatawan di Pulau Dewata kita. Jumlah sampah di tempat-tempat pariwisata terkenal di Bali sangat banyak, seperti daerah di sekitaran Pantai Dreamland, jalan-jalan disekitaran wisata bedugul, maupun di area-area wisata pura di Bali. Penanggulangan masalah sampah dan kebersihan lingkungan bisa dilakukan dengan cara membiasakan diri kita untuk membersihkan lingkungan rumah sekitar. Jangan malu untuk mengajak teman-teman kita bersama-sama membersihkan area wisata di Bali. Semakin bersih Bali, kepercayaan diri kita akan semakin meningkat untuk mempromosikan Bali sebagai tempat wisata terbaik di dunia yang tentu saja hal ini dapat meningkatkan perekonomian rakyat Bali.Selain itu, publik Bali harus bisa menekan jumlah sampah yang berserakan mulai dari perorangan, baik berupa sampah plastik, lingkungan, maupun sampah hasil persembahyangan.

Mengurangi jumlah sampah yang berserakan bukan berarti membatasi kerja kita yang menghasilkan sampah. Langkah nyata yang bisa kita lakukan adalah dengan selalu membuang sampah pada tempatnya, tidak mengotori area pura dengan membiasakan diri membuang canang dan dupa sisa persembahyangan kita di tempat sampah, dan membiasakan diri memungut sampah yang ada di depan kita. Jika perlu, jangan ragu-ragu untuk membuat kegiatan amal bersama teman-teman SMP, SMU, dan teman perkuliahan kita untuk melakukan gotong-royong membersihkan tempat-tempat wisata di Bali.Ada contoh yang sangat baik yang dapat kita tiru dari pulau Okinawa – Jepang yang notabene merupakan tempat wisata yang mirip kondisinya dengan Bali. Contoh kecil tersebut adalah membiasakan kita berbelanja menggunakan kantong belanja yang bisa dipakai berulang-ulang, dengan demikian kita akan mengurangi jumlah sampah plastik di Bali.

b.      Kemacetan lalu lintas dan masalah parkir

Sementara itu, permasalahan transportasi yang berupa kemacetan dan masalah tempat parkir juga terjadi di Bali. Pengembangan transportasi umum untuk para wisatawan dan penduduk lokal untuk mengurangi penggunaan mobil pribadi dan sewaan menjadi syarat mutlak yang harus diperjuangkan untuk mengatasi kemacetan di Bali. Transporatasi umum yang ideal adalah sistem transportasi yang bisa menjadi solusi yang murah dan tidak mengganggu aktivitas trasnportasi kendaraan lainnya.Saya Beberapa usaha yang dilakukan seperti pembangunan halte-halte bus yang baru disekitar ruas jalan, namun pembangunannya terkesan setengah hati. Halte-halte bus tersebut terlalu besar dan didirikan diatas trotoar yang dapat mengganggu kenyamanan orang lain. Bali yang kecil ini tidak cocok untuk angkutan umum dan fasilitas mendukung yang besar-besar karena hal ini tidak akan menjadi solusi mengatasi kemacetan. Bali hanya butuh sistem trasportasi umum yang kecil, praktis, dan dapat mencakup seluruh tempat wisata di Bali melalui jalur-jalur alternatif yang dapat mengatasi kemacetan.

c.         Permasalahan pada sistem antrian di Bandara yang tidak teratur

Terlalu banyak orang yang bekerja di Bandara Internasional Ngurah Rai namun sistem pelayanannya sangat tidak efektif dan kurang memuaskan. Lampu di bandara tidak menyala saat menjelang senja, jadwal penerbangan yang dibiarkan salah begitu saja, beberapa pemeriksaan tiket dan bagasi yang kurang efektif  dan memakan waktu yang lama. Hal-hal kecil seperti kebersihan bandara, parkir, kebersihan toilet, jam dinding yang dibiarkan mati juga perlu menjadi perhatian serius dalam peningkatan pelayanan di Bandara Ngurah Rai.

d.       Danau-danau di Bali mengalami sedimentasi dan pendangkalan

Semua danau di Bali rata-rata mengalami pendangkalan. Kerusakan lingkungan ini bukanlah hal yang wajar. Semuanya berkaitan dengan prilaku kita yang mengabaikan aspek-aspek kelestarian lingkungan. Sebagai contoh, semakin banyaknya rumah-rumah dan fasilitas umum yang di beton dan di aspal.Adapun langkah-langkah yang bisa kita lakukan dalam menanggulangi permasalahan ini adalah dengan membuat kebun pada pekarangan rumah, membiarkan sebagian halaman rumah  tidak di beton tanpa mengurangi kebersihan rumah, atau dalam skala pembangunan fasilitas umum dengan membuat taman kota di tempat-tempat wisata. Dengan pembangunan ini diharapkan secara tidak langsung kita bisa menjaga air bawah tanah pada daerah-daerah yang padat penduduk. Akan lebih bijaksana apabila kita selalu membangun rumah atau infrastruktur lainnya dengan tetap memperhitungkan aspek-aspek kelestarian lingkungan dan tetap  menjaga bangunan budaya bali.

e.         Abrasi pantai, kerusakan terumbu karang, kerusakan vegetasi hutan mangrove, dan pencemaran air laut

Terlalu banyak pembangunan-pembangunan di wilayah Bali Selatan yang merusak Pantai dan Hutan Mangrove. Mereka beralasan bahwa mereka hanya merusak sebagian kecil, 10% dari pantai-pantai di Bali dan hutan mangrove untuk mendapatkan ijin pembangunan.Pejabat-pejabat di Bali yang mengambil keputusan dalam pembangunan proyek di Bali harus lebih pintar dalam memberikan ijin ke Investor. Pembangunan mal centro di Kuta, dan beberapa proyek yang sedang berlangsung seperti rencana pembangunan jalan tol Nusa-Dua Bandara Ngurah Rai merupakan salah satu contoh yang harus menjadi perhatian serius masyarakat Bali.

f.          Kurangnya lapangan pekerjaan dan perhatian untuk para lulusan sarjana di Bali

Jumlah penggangguran dari kalangan lulusan perguruan tinggi (S1) di Denpasar mencapai 45 persen dari total angka usia produktif yang tidak bekerja di Pulau Dewata. Pemerintah, pengusaha dan perguruan tinggi harus bersama-sama berusaha untuk mencari solusi dan memberikan perhatian yang lebih serius dan lapangan pekerjaan untuk menyikapi permasalahan ini. Akhir-akhir ini, banyak generasi muda Bali yang lebih memilih bekerja di kapal pesiar dengan gaji 8 juta perbulan, yang notabene kita dijadikan budak oleh para pebisnis kapal pesiar. Akan lebih bijaksana apabila pemerintah mampu memanfaatkan tenaga kerja ini untuk bersama-sama membangun dan mengatasi segala permasalahan yang ada di Bali.

g.       Harga pelayanan jasa hiburan yang tidak adil dan mencolok mata untuk wisatawan lokal dan mancanegara

harga tiket masuk yang berbeda untuk orang lokal dan wisatawan asing terlalu terang-terangan membuat kondisi yang tidak adil untuk wisatawan asing. Tamu adalah raja tidak sepantasnya kita perlakukan mereka seperti itu. Ada ide menarik yang mungkin bisa dijadikan pertimbangan adalah dengan memberikan kartu khusus untuk mendapatkan diskon bagi wisatawan lokal dan krama Bali yang juga ingin menikmati indahnya tempat wisata di Bali. Dengan kartu ini, wisatawan lokal mendapat potongan harga sekitar 30-40 % dengan aturan yang telah ditetapkan dengan jelas, sehingga memudahkan kita untuk menjelaskan kenapa ada perbedaan tarif masuk antara orang lokal dan wisatawan asing di Bali.

h.       Berbagai macam permasalahan pada sektor pertanian di Bali

Permasalahan ekonomi para petani menjadi akar dari permasalahan pada sektor pertanian di Bali yang berupa semakin banyaknya alih fungsi lahan pertanian di Bali. Pemerintah daerah perlu mengembangkan insentif bagi upaya mempertahankan lahan pertanian. Jangan sampai hanya karena masalah ekonomi, kita berusaha merubah sistem pengairan tradisional Subak yang telah disetujui sebagai sistem irigasi terbaik di dunia.

i.         Permasalahan sumber energi listrik

Sampai saat ini Bali masih bergantung dengan jaringan listrik dari luar. Karenanya apabila terjadi gangguan dengan koneksi jaringan listrik Jawa-Bali, dapat dipastikan Bali akan mengalami pemadaman listrik untuk jangka waktu yang lama, dan tentu saja ini akan mengganggu industri pariwisata yang akan berpengaruh ke segala bidang.

 

2.5 Pengaruh perkembangan pariwisata bali terhadap struktur perekonomian  provinsi bali.

Dengan berkembangnya sektor pariwisata di Provinsi Bali, yaitu dengan indikator meningkatnya kunjungan wisatawan asing dan domestik serta meningkatnya pendapatan pada subsektor perdagangan hotel dan restoran, menyebabkan sektor jasa meningkat pesat melebihi sektor pertanian dan sector industri. Dengan pesatnya pertumbuhan sektor jasa sebagai akibat dari perkembangan pariwisata, maka terjadi ketidak seimbangan pertumbuhan sektorsektor ekonomi di Provinsi Bali, yang selanjutnya menyebabkan terjadinya perubahan struktur produksi dan struktur penyerapan tenaga kerja dari pertanian ke jasa.

Struktur perekonomian Bali sangat spesifik dan mempunyai karateristik tersendiri dibandingkan dengan propinsi lainnya di Indonesia. Spesifik perekonomian Bali itu dibangun dengan mengandalkan industri pariwisata sebagai leading sector, telah mampu mendorong terjadinya suatu perubahan struktur. Perubahan struktur ekonomi Bali tidak saja dilihat dari segi pendapatan saja, namun juga dari kesempatan kerja. Presentase pekerja di Bali turun setiap tahunnya sebesar 43,12% di sektor pertanian,yang mengalami fluktuasi pertumbuhan penyerapan tenaga kerja dari 2,6% menjadi 1,3%.  Membaiknya pertumbuhan ekonomi Bali menjadi salah satu indikator semakin meningkatkan kesejahteraan masyarakat Pulau Dewata. Struktur ekonomi Bali masih didominasi sektor tersier sebesar 65,58 persen, menyusul sektor primer 18,86 persen dan sektor sekunder 15,56 persen. Sektor pertanian memberikan andil sebesar 18,21 persen, pertambangan dan penggalian 0,65 persen, sektor industri pengolahan 9,16 persen, serta listrik, gas dan air bersih dua persen. Sektor bangunan menyumbang sekitar 4,4 persen, perdagangan, hotel dan restoran 30 persen, angkutan dan komunikasi 13,76 persen, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan 7,11 persen dan sektor jasa-jasa lainnya 14,72 persen. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Bali atas dasar harga berlaku mencapai Rp57,579 miliar selama 2009, meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya Rp49,922 triliun. PDRB perkapita mengalami peningkatan dari Rp14,2 juta pada tahun 2008 menjadi Rp16,21 juta pada akhir 2009.

 

Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah pendapatan daerah yang bersumber dari hasil pajak daerah, hasil retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, dan lain – lain, pendapatan daerah yang sah, yang bertujuan untuk memberi keleluasaan kepada daerah dalam menggali pendanaan dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah. Dalam Perda Provinsi Bali Nomor 14 Tahun 2009 tentang perubahan atas Perda Provinsi Bali Nomor 7 Tahun 2009 tentang APBD Tahun 2009 tertera bahwa  Provinsi Bali memiliki beberapa sumber PAD bagi sumber pendapatan daerah, yaitu :                                                                                                   1. Pajak Daerah yang dikelola provinsi, meliputi : Pajak kendaraan bermotor dan kendaraan di atas air, Pajak bea balik nama kendaraan bermotor dan kendaraan di atas air , Pajak bahan bakar bermotor , Pajak pemanfaatan dan pengambilan air bawah tanah dan air  permukaan.

2. Retribusi daerah

3. Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan.

4. Lain – Lain Pendapatn Asli Daerah yang Sah.

Total keseluruhan PAD dalam APBD Provinsi Bali Tahun 2009 adalah Rp.977.410.245.034,- dengan total pendapatan dalam APBD adalah sebesar Rp.1.661.108.445.333, -. Jadi tingkat kemampuan Pendapatan Asli Daerah Provinsi Bali dalam tahun anggaran 2009 adalah :

 

Bali memiliki banyak keunggulan dibanding provinsi lainnya di Indonesia. Seperti diutarakan di awal sebelumnya,Bali dikenal dengan keindahan alam dan keunikan budayanya. Bali mengunggulkan produk pariwisatanya yang indah untuk memancing turis-turis local maupun mancanegara untuk datang ke Bali. Seperti contohnya, tempat-tempat pariwisata di Bali ialah Pantai Kuta, Tanah Lot, Pantai Sanur, Jimbranan, dan Nusa Dua sangat ramai di kunjungi orang tiap harinya. Hotel-hotel yang bernuansa pantai dan pedesaan banyak dibangun disana dari yang harga murah meriah seperti losmen-losmen hingga hotel berbintang lima dengan harga yang sangat menguras kocek. Selain itu, Bali dikenal juga dengan budayanya yang unik dan mengundang decak kagum bagi orang yang melihatnya seperti tari Kecak dan tari Pendet yang sangat fenomenal hingga ke dunia internasional. Di Bali juga banyak terdapat pusat-pusat kesenian daerahnya, salah satu tempatnya ialah di daerah Ubud. Tidak hanya menawarkan pesona alamnya dan keunikan budayanya, Bali juga mengunggulkan sector kerajinan tangan yang sangat kreatif. Banyak handmade buatan Bali yang diekspor ke luar negeri. Kuliner di Bali sangat beranekaragam dan enak di lidah, seperti Ayam Betutu, Garang Asem dan Sate Lilit yang menjadi menu andalan khas Bali yang sering dicari oleh turis-turis yang berkunjung.

 

 

 

 

 

 

2.6 Pengaruh perkembangan pariwisata  teradap kesejahteraan masyarakat di bali.

Perkembangan pariwisata menyebabkan kesejahteraan masyarakat secara tidak langsung meningkat melalui kinerja perekonomian dan perubahan struktur ekonomi yang dihasilkan oleh perkembangan pariwisata. Melalui kinerja perekonomian dan perubahan struktur ekonomi pengaruh perkembangan pariwisata terhadap kesejahteraan masyarakat meningkat menjadi 0,569. Hal ini berarti bahwa pengaruh tidak langsung perkembangan pariwisata tidak langsung meningkat melalui kinerja perekonomian dan perubahan struktur ekonomi adalah sebesar 0,345 yang lebih besar dari koefisien pengaruh langsung yang hanya 0,224. Kesimpulan ini sesuai dengan pendapat Spillane (1989; 47) dan juga Ave (2006) yang mengatakan bahwa pariwisata di samping memberikan dampak langsung juga memberikan dampak tidak langsung dan dampak ikutan (induced effect) terhadap perekonomian. Dampak tidak langsung dinikmati oleh karyawan hotel, restoran, biro perjalanan wisata, objek tujuan wisata, sopir angkutan, penerimaan pajak bagi pemerintah, pengrajin cenderamata, seniman, percetakan, pedagang sayur-sayuran dan buah-buahan, pompa bensin, dan sebagainya. Dampak ikutan antara lain meningkatkan pendapatan bagi petani sayur dan buah-buahan, peternak, pemasok bahan baku untuk barang kerajinan, sektor industri, perdagangan, dan sektor agribisnis.

Tidak adanya pengaruh langsung dan signifikan perkembangan pariwisata terhadap kesejahteraan masyarakat dijelaskan sebagai berikut. Seperti yang dikemukakan oleh Spillane (1989: 47) dan Ave (2006) bahwa industri pariwisata merupakan mata rantai yang sangat panjang, dan dampak langsung dari kunjungan pariwisata adalah hanya terhadap subsektor yang menerima pendapatan dari belanja wisatawan, yaitu: hotel, restoran, biro perjalanan, perdagangan. Karena masyarakat yang bekerja langsung pada sektor pariwisata relatif kecil, yaitu 14,52 persen pada tahun 1980, tahun 1990 sebanyak 15,58 persen, tahun 2000 sebanyak 24,06 persen dan tahun 2004 sebanyak 26,63 persen, sehingga perkembangan pariwisata tidak memberikan pengaruh langsung yang signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Meskipun demikian, pandangan perspektif developmentalist yang dikemukanan oleh Pye dan Lin (1983) menegaskan bahwa industri pariwisata telah banyak menyumbangkan kecepatan, percepatan, dan arah perkembangan di negara-negara berkembang sehingga dianggap sebagai pintu masuk bagi kesejahteraan masyarakat melalui pengaruh tidak langsung.

DAFTAR PUSTAKA

 

Http://www.Metrobli.com

 

http://www.balinter.net/news_246_Pariwisata_Bali_sebagai_industri_dan_sumber_pendapatan_masyarakathtml

 

http://tourismbali.wordpress.com/2011/04/10/dimensi-ekonomi-pariwisata-kajian-terhadap-dampak-ekonomi-dan-refleksi-dampak-pariwisata-terhadap

http://id.wikipedia.org/wiki/Pariwisata

2.4 Hakekat Manusia Sebagai Makhluk Budaya

 

manusia sebagai makhluk yang paling sempurna bila dibanding dengan makhluk lainnya, mempunyai kewajiban dan tanggung jawab untuk mengelola bumi. leh karena itu manusia harus menguasai segala sesuatu yang berhubungan dengan kekhalifahannya disamping tanggung jawab dan etika moral harus dimiliki

Akhlak dalam syair di atas menjadi penyebab punahnya suatu bangsa, dikarenakan jika akhlak suatu bangsa sudah terabaikan, maka peradaban dan budaya bangsa tersebut akan hancur dengan sendirinya. Oleh karena itu untuk menjadi manusia yang berbudaya, harus memiliki ilmu pengetahuan, tekhnologi, budaya dan industrialisasi serta akhlak yang tinggi (tata nilai budaya) sebagai suatu kesinambungan yang saling bersinergi, sebagaimana dilukiskan dalam bagan berikut:

 

Hommes mengemukakan bahwa, informasi IPTEK yang bersumber dari sesuatu masyarakat lain tak dapat lepas dari landasan budaya masyarakat yang membentuk informasi tersebut. Karenanya di tiap informasi IPTEK selalu terkandung isyarat-isyarat budaya masyarakat asalnya. Selanjutnya dikemukakan juga bahwa, karena perbedaan-perbedaan tata nilai budaya dari masyarakat pengguna dan masyarakat asal teknologinya, isyarat-isyarat tersebut dapat diartikan lain oleh masyarakat penerimanya.

Disinilah peran manusia sebagai makhluk yang diberi kelebihan dalam segala hal, untuk dapat memanfaatkan segala fasilitas yang disediakan oleh Allah SWT melalui alam ini. Sehingga dengan alam tersebut manusia dapat membentuk suatu kebudayaan yang bermartabat dan bernilai tinggi. Namun perlu digarisbawahi bahwa setiap kebudayaan akan bernilai tatkala manusia sebagai masyarakat mampu melaksanakan norma-norma yang ada sesuai dengan tata aturan agama

MENINGKATNYA BUDAYA KEKERASAN DI INDONESIA

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1 Pengertian Budaya

Kata budaya merupakan bentuk majemuk kata budi-daya yang berarti cipta, karsa, dan rasa. Sebenarnya kata budaya hanya dipakai sebagai singkatan kata kebudayaan, yang berasal dari Bahasa Sangsekerta budhayah yaitu bentuk jamak dari budhi yang berarti budi atau akal. Budaya atau kebudayaan dalam Bahasa Belanda di istilahkan dengan kata culturur. Dalam bahasa Inggris culture. Sedangkan dalam bahasa Latin dari kata colera. Colera berarti mengolah, mengerjakan, menyuburkan, dan mengembangkan tanah (bertani). Kemudian pengertian ini berkembang dalam arti culture, yaitu sebagai segala daya dan aktivitas manusia untuk mengolah dan mengubah alam.

Definisi budaya dalam pandangan ahli antropologi sangat berbeda dengan pandangan ahli berbagai ilmu sosial lain. Ahli-ahli antropologi merumuskan definisi budaya sebagai berikut:E.B. Taylor: 1871 berpendapat bahwa budaya adalah: Suatu keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, kesusilaan, hukum, adat istiadat, serta kesanggupan dan kebiasaan lainnya yang dipelajari manusia sebagai anggota masyarakat.Sedangkan Linton: 1940, mengartikan budaya dengan: Keseluruhan dari pengetahuan, sikap dan pola perilaku yang merupakan kebiasaan yang dimiliki dan diwariskan oleh anggota suatu masyarakat tertentu.Adapun Kluckhohn dan Kelly: 1945 berpendapat bahwa budaya adalah: Semua rancangan hidup yang tercipta secara historis, baik yang eksplisit maupun implisit, rasional, irasional, yang ada pada suatu waktu, sebagai pedoman yang potensial untuk perilaku manusiaLain halnya dengan Koentjaraningrat: 1979 yang mengatikan budaya dengan: Keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.

Berdasarkan definisi para ahli tersebut dapat dinyatakan bahwa unsur belajar merupakan hal terpenting dalam tindakan manusia yang berkebudayaan. Hanya sedikit tindakan manusia dalam rangka kehidupan bermasyarakat yang tak perlu dibiasakan dengan belajar.

Dari kerangka tersebut diatas tampak jelas benang merah yang menghubungkan antara pendidikan dan kebudayaan. Dimana budaya lahir melalui proses belajar yang merupakan kegiatan inti dalam dunia pendidikan.Selain itu terdapat tiga wujud kebudayaan yaitu :

  1. wujud pikiran, gagasan, ide-ide, norma-norma, peraturan,dan sebagainya. Wujud pertama dari kebudayaan ini bersifat abstrak, berada dalam pikiran masing-masing anggota masyarakat di tempat kebudayaan itu hidup;
  2. aktifitas kelakuan berpola manusia dalam masyarakat. Sistem sosial terdiri atas aktifitas-aktifitas manusia yang saling berinteraksi, berhubungan serta bergaul satu dengan yang lain setiap saat dan selalu mengikuti pola-pola tertentu berdasarkan adat kelakuan. Sistem sosial ini bersifat nyata atau konkret;
  3. Wujud fisik, merupakan seluruh total hasil fisik dari aktifitas perbuatan dan karya manusia dalam masyarakat.

2.2 Sifat-sifat budaya.

Berdasarkan penggolongan wujud budaya di atas kita dapat mengelompokkan budaya menjadi dua, yaitu: Budaya yang bersifat abstrak dan budaya yang bersifat konkret.

  1. 1.      Budaya yang Bersifat Abstrak

Budaya yang bersifat abstrak ini letaknya ada di dalam alam pikiran manusia, misalnya terwujud dalam ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan-peraturan, dan cita-cita. Jadi budaya yang bersifat abstrak adalah wujud ideal dari kebudayaan. Ideal artinya sesuatu yang menjadi cita-cita atau harapan bagi manusia sesuai dengan ukuran yang telah menjadi kesepakatan.

  1. 2.      Budaya yang Bersifat konkret

Wujud budaya yang bersifat konkret berpola dari tindakan atau peraturan dan aktivitas manusia di dalam masyarakat yang dapat diraba, dilihat, diamati, disimpan atau diphoto. Koencaraningrat menyebutkan sifat budaya dengan sistem sosial dan fisik, yang terdiri atas: perilaku, bahasa dan materi.

  1. Perilaku adalah cara bertindak atau bertingkah laku dalam situasi tertentu. Setiap perilaku manusia dalam masyarakat harus mengikuti pola-pola perilaku (pattern of behavior) masyarakatnya.
  2. Bahasa adalah sebuah sistem simbol-simbol yang dibunyikan dengan suara (vokal) dan   ditangkap dengan telinga (auditory). Ralp Linton mengatakan salah satu sebab paling penting dalam memperlambangkan budaya sampai mencapai ke tingkat seperti sekarang ini adalah pemakaian bahasa. Bahasa berfungsi sebagai alat berpikir dan berkomunikasi. Tanpa kemampuan berpikir dan berkomunikasi budaya tidak akan ada.
  3. Budaya materi adalah hasil dari aktivitas atau perbuatan manusia. Bentuk materi misalnya pakaian, perumahan, kesenian, alat-alat rumah tangga, senjata, alat produksi, dan alat transportasi.Unsur-unsur materi dalam budaya dapat diklasifikasikan dari yang kecil hingga ke yang besar adalah sebagai berikut:

1. Items, adalah unsur yang paling kecil dalam budaya.

2. Trait, merupakan gabungan dari beberapa unsur terkecil

3. Kompleks budaya, gabungan dari beberapa items dan trait

4. Aktivitas budaya, merupakan gabungan dari beberapa kompleks budaya.

Gabungan dari beberapa aktivitas budaya menghasilkan unsur-unsur budaya menyeluruh (culture universal). Terjadinya unsur-unsur budaya tersebut dapat melalui discovery (penemuan atau usaha yang disengaja untuk menemukan hal-hal baru).

 

2.3 Substansi Utama Budaya

Substansi utama budaya adalah sistem pengetahuan, pandangan hidup, kepercayaan, persepsi, dan etos kebudayaan. Tiga unsur yang terpenting adalah sistem pengetahuan, nilai, dan pandangan hidup.

  1. 1.      Sistem Pengetahuan

Para ahli menyadari bahwa masing-masing suku bangsa di dunia memiliki sistem pengetahuan tentang:Alam sekitar,Alam flora dan fauna, Zat-zat, manusia, Sifat-sifat dan tingkah laku sesama manusia serta Ruang dan waktu. Unsur-usur dalam pengetahuan inilah yang sebenarnya menjadi materi pokok dalam dunia pendidikan di seluruh dunia.

 

  1. 2.      Nilai

Menilai berarti menimbang, yaitu kegiatan manusia untuk menghubungkan sesuatu dengan sesuatu yang lain untuk dijadikan pertimbangan dalam mengambil keputusan. Keputusan nilai dapat menentukan sesuatu berguna atau tidak berguna, benar atau salah, baik atau buruk, religius atau sekuler, sehubungan dengan cipta, rasa dan karsa manusia.Sesuatu dikatakan mempunyai nilai apabila berguna dan berharga (nilai kebenaran), indah (nilai estetis), baik (nilai moral atau etis), religius (nilai agama). Prof. Dr. Notonagoro membagi nilai menjadi tiga bagian yaitu:

–          Nilai material, yaitu segala sesuatu (materi) yang berguna bagi manusia.

–          Nilai vital, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat mengadakan kegiatan dan aktivitas

–          Nilai kerohanian, yaitu segala sesuatu yang bisa berguna bagi rohani manusia.

  1. 3.      Pandangan Hidup

Pandangan hidup adalah suatu nilai-nilai yang dianut oleh suatu masyarakat dan dipilih secara selektif oleh individu, kelompok atau suatu bangsa. Pandangan hidup suatu bangsa adalah kristalisasi nilai-nilai yang dimiliki oleh bangsa itu sendiri, yang diyakini kebenarannya, dan menimbulkan tekad pada bangsa itu untuk mewujudkannya.

 

2.4 Pengertian Budaya Kekerasan

2. 4.1 Pengertian kekerasan

Kekerasan lazimnya kita menyebutnya dengan violence,  berasal dari bahasa latin yaitu vis yang berarti daya, kekuatan dan latus brasal dari feree yang berarti membawa, yang kemudian berarti membawa kekuatan. Namun menurut johan galtung kekerasan adalah sebagai segala sesuatu yang menyebabkan orang terhalang untuk mengaktualisasikan potensi diri secara wajar, karena pada hakikatnya setiap individu mempunyai hak dan potensi untuk mengaktualisasikan diri secara wajar dan natural.

Kekerasan langsung adalah kekerasan yang dilakukan oleh satu atao sekelompok actor kepada pihak lain dengan menggunakan alat kekerasan, dan seringkali lebih bersifat fisik dan secara langsung, jelas siapa subjek siapa objek, siapa korban dan siapa pelakunya. Seperti contoh pembunuhan, pemotongan anggota tubuh dan lain sebagainya. Jadi identifikasi paling mendasar tentang kekerasan langsung adalah dengan adanya korban luka maupun meninggal.

Kekerasan tidak langsung adalah kebalikan dari kekerasan langsung, dimana lebih bersifat psikis, seperti contoh kasus gizi buruk, itu bukan akibat ulah kekerasan yang dilakukan secara langsung tetapi lebih kepada akibat tatanan sistem politik, sosial budaya dan juga ekonomi yang tidak adil atau tidak seimbang dalam menjalankan peranya, karena alas an ini sehingga menyebabkan kekerasan menjadi terbuka, atau contoh lain seperti pembalasan dendam, pengasingan, blockade, diskriminasi,.

 

2. 4. 2 Pengertian budaya kekerasan

Kekerasan budaya yakni nilai nilai budaya yang di gunakan untuk  membenarkan dan mengesahkan penggunaan kekerasan langsung atau tidak langsung, wujud dari kekerasan cultural adalah bendera kebangsaan, pidato para pemimpin,dalil dalil dalam agama, dan beragam poster yang membangkitkan dorongan untuk menjalan kan kekerasan sehingga kekerasan ini menjadi sah secara budaya dan mendapatkan legitimasi.

Lalu bagaimana hubungan kekerasan dengan konflik?  Jelas keduanya memiliki hubungan yang sangat erat karena kekerasan adalah merupakan aktualisasi daripada konflik, dan konflik itu sendiri menempatkan dirinya berada pada alam bawah sadar atau di otak kita. Jadi kekerasan itu berangkat terlebih dahulu dari konflik yang tersimpan dalam memori kita kemudian berujung pada terjadinya benturan fisik atau psikis. Lalu bagaimana resolusi konfliknya ?  akan lebih mudah bagi kita untuk  menawarkan resolusi konfliknya jika terlebih dahulu kita mengetahui jenis kekerasan apa yang terjadi , Kekerasan langsung, tidak langsung atau kekerasan budaya. Jika jenis kekerasan yang terjadi adalah kekerasan langsung maka yang paling tepat adalah dengan menggunakan kakuatan diluar kedua belah pihak yang berkonflik dan tentu harus lebih kuat. Jika kekerasan yang terjadi adalah kekerasan tidak langsung maka yang paling tepat di gunakan adalah memutuskan mata rantai yang menyebabkan terus menerusnya kelangsungan hidup kekerasan struktural tersebut dengan cara memberikan pengetahuan kepada generasi selanjutyna bahwa kekerasan itu harus di hentikan dan menyediakan mediator yang telah di setujui oleh kedua belah fihak, serta menjalin,dan menjaga komunikasi yang baik dan seimbang. Sehingga yang menjadi inti dari  struktur itu adalah pengertian tentang nilai nilai positif yang akan berujung pada berhentinya kekerasan structural tersebut yang mengarah pada gerakan massif.

 

2.5 Contoh kasus budaya kekerasan di masyarakat

Kekerasan di Indonesia terus berkembang dan sekarang sudah menjadi kebudayaan yang lazim di masyarakat. Beberapa kasus kekerasan yang telah terjadi misalnya pertikaian berdarah antara Satpol PP dengan warga di daerah Jakarta Utara. Kekerasan yang memakan korban aparat dan warga kembali jadi pilihan saat sekitar 2.000 polisi pamong praja mencoba menggusur kompleks makam Mbah Priok, di Jakarta Utara. Permasalahan ini seharusnya bisa diselesaikan dengan “kepala dingin”. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya  Tindakan represif ditunjukan oleh kedua belah pihak ini mengakibatkan jatuhnya tiga orang korban jiwa di pihak Satpol PP. Sehari sebelumnya kerusuhan juga pecah saat Satpol PP Kota Tangerang menggusur pemukiman warga Cina Benteng, Kelurahan Mekarsari, Kecamatan Neglasari (TEMPO Interaktif,15/4/2010). Tindak kekerasan yang dilakukan oleh Satpol PP merupakan sebuah tragedi yang patut kita sayangkan. Bagaimana tidak, tragedi tersebut dilakukan oleh pihak yang paling berkuasa, yaitu negara Sebenarnya tindak kekerasan yang dilakukan oleh aparatur negara ini (Satpol PP) merupakan sedikit contoh dari “dosa-dosa” yang telah pemerintah lakukan sebelumnya. Dengan kilah penggunaan kekerasan sebagai alat pemeliharaan tertib sosial (order), pemerintah melakukan tindakan represif kepada pihak-pihak yang dianggap mengganggu ketertiban atau membahayakan stabilitas negara.

Selain itu, kekerasan yang sering terjadi belakangan ini adalah kekerasan antara ormas. Hakikat kehadiran organisasi kemasyarakatan (ormas) merupakan perwujudan kebebasan berserikat dan berkumpul sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 28 UUD 1945. Peran dan fungsinya lebih gamblang lagi dinyatakan dalam UU Nomor 8 Tahun 1985. Di dalam UU itu disebutkan salah satu fungsi ormas, yakni wadah penyalur kegiatan sesuai kepentingan anggotanya. Kepentingan disini salah satunya adalah jaminan keamanan. Tetapi pada kenyataannya, stigma kekerasan dan anarkis yang justru  dominan muncul. Pemberitaan media massa mengenai tindak anarkis yang dilakukan ormas umum didengar . Kekerasan yang dilakukan ormas meningkat. Sepuluh kasus terjadi tahun 2007 dan turun menjadi delapan kasus pada tahun 2008. Pada tahun 2009, jumlah itu melonjak menjadi 40 kasus. Meski tahun 2010 belum berakhir, tindak kekerasan yang dilakukan ormas sudah mencapai 49 kasus. Contoh kasus kekerasan yang dilakukan oleh ormas yang santer terdengar  antara lain adalah pertikaian  perebutan wilayah kekuasaan oleh FBR dan Forkabi, pengerusakan properti dan intimidasi yang dilakukan oleh FPI, dan masih banyak lagi

 

2.6 Penyebab Timbulnya Budaya Kekerasan di Masyarakat.

Kalau kita lihat asalnya, Kekerasan berasal dari dua factor yaitu:

1.      Faktor Internal. Salah satu faktor yang amat mempengaruhi peubahan karakter masyarakat yang cenderung anarkis yakni faktor dari dalam masyarakat itu sendiri. Dalam hal ini anarkisme sebenarnya tidak murni hasil sumbangan budaya barat yang tidak mengenal sopan santun, namun juga sebenarnya telah berkembang dimasyarakat kita sejak zaman kerajaan atau pra-kolonial. Kita dapat mengambil contoh perang suku di Papua yang disinyalir menjadi ritual wajib dalam kebudayaan masyarakat sana. Adapun secara kultural, kita dapat mengkaji bahwa, anarkisme awalnya terbentuk dari sebuah gesekan antar suku, namun seiring dengan pola kultural yang berlaku di masyarakat papua tersebut, hal itu telah menjadi sebuah kebiasaan yang terus menerus dilakukan yang akhirnya menciptakan sebuah budaya baru.

2.      Faktor eksternal. Sebenarnya pergerseran budaya menjadi faktor eksternal dari perilaku anarkis yang selama ini terjadi. Faktor internal telah menjadi fondasi dasar atas perilaku anarkis yang berkembang di masyarakat. Disamping itu, globalisasi telah menyusupkan sebuah virus negatif sebagai sisi lain dari kemajuan zaman yang ia gaungkan. Dalam hal ini, budaya barat sebenarnya tidak murni mengharapkan terjadinya pergeseran budaya dimasyarakat kita. Namun proses filterisasi atau pemaknaan yang salah atas budaya barat yang masuk ke budaya kita menyebabkan terjadinya akulturasi yang tidak sempurna, bahkan menjurus negatif. Sebagai contoh ketika budaya sosialisme yang disalah artikan oleh lenin menjadi sebuah komunisme-leninisme. Dalam hal tersebut, sebenarnya sosialisme yang digambarkan oleh marx adalah sebuah kesetaraan sosial. Namun oleh lenin diubah sebagai cara untuk menyetarakan masyarakat dengan jalan apapun, termasuk anarkisme. Dalam kaitannya dengan masyarakat kita, hal tersebut juga terjadi dalam proses akulurasi budaya barat dengan budaya kita. Kebanyakan masyarakat hanya mengambil kesimpulan dangkal atas suatu paham dari budaya barat, tanpa menyaring budaya tersebut agar dapat sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat kita.

Secara umum Ada beberapa hal yang menyebabkan terjadinya kekerasan di masyarakat yaitu :

  1. masalah penegakan hukum (law enforcement) yang masih lemah. Tanpa penegakan hukum yang tegas dan adil, maka kekecewaan akan tumbuh di dalam masyarakat. Penegakan hukum yang diinginkan adalah yang adil, dalam arti tidak pandang bulu, apakah ia berduit atau tidak, apakah orang kaya atau miskin, apakah berkuasa atau tidak, di depan hukum harus diperlakukan secara adil. Jika tidak, kekecewaan demi kekecewaan masyarakat lambat laun akan terakumulasi dan hanya menunggu momentum untuk meledak. Sedikit saja ada permasalahan, masyarakat menjadi cepat marah.
  2. Kesenjangan gap ekonomi. Masalah kesenjangan ekonomi terjadi di mana–mana di berbagai belahan dunia. Hanya yang berbeda adalah tingkat kesenjangannya. Semakin besar gap pendapatan anggota masyarakat yang satu dengan yang lain, semakin potensial untuk mengoyak kestabilan dan keamanan wilayah atau daerah setempat. Kesenjangan ekonomi dapat dengan pasti menimbulkan kecemburuan sosial. Apalagi mereka yang terbilang kaya tidak peduli dengan mereka yang miskin yang ada di sekitarnya. Kecemburuan sosial inipun secara potensial membahayakan, karena sewaktu-waktu bisa tersulut membara menjadi tindakan anarkhis, hanya karena percikan api permasalahan yang kecil saja.

  3. Tidak adanya keteladanan dari sang pemimpin. Artinya, pemimpin mulai tidak satya wacana: apa yang dilakukan berbeda jauh dengan apa yang dikatakan. Pemimpin melakukan tindakan-tindakan yang tidak terpuji, mementingkan diri sendiri, dan keluar dari rel kewenangannya. Masyarakat yang kehilangan figur yang layak diteladani bagai anak ayam yang kehilangan induknya. Walaupun secara fisik sang induk ada, tapi tidak pantas lagi menjadi panutan. Ketika terjadi permasalahan, maka masyarakat yang kehilangan figur keteladanan, menjadi bingung ke mana dan di mana tempat bertanya dan mengadu. Karena tidak ada yang pantas diteladani, maka mereka melakukan tindakan yang semaunya, yang acapkali tanpa pertimbangan.

  4. Provokasi dari pihak-pihak yang berkepentingan menjadikan bibit-bibit permasalahan yang ada agar menjadi besar. Di balik upaya-upaya mereka itu tentu ada maksud yang tersembunyi, mungkin dalam kaitannya dengan politik, seperti dalam rangka merebut kekuasaan dengan cara merusak image orang yang sedang berkuasa atau lawan politiknya, dan sebagainya. Bagi sebagian masyarakat yang kondisinya sudah ‘labil’ karena dihimpit oleh berbagai persoalan hidup, bukanlah tidak mungkin mereka dengan mudah terprovokasi untuk melakukan tindakan-tindakan destruktif tanpa menyadari bahwa sebenarnya mereka sedang diperalat.

2.7     Upaya – upaya untuk mengatasi kekerasan di  masyarakat.
              upaya – upaya  yang mungkin bias dilakukan untuk memperkecil angka kekerasan di masyarakat antara lain :

  1. penegakan hukum yang menghormati rasa keadilan masyakarakat. Ketegasan dan keberanian pihak penegak hukum sangat diperlukan. Fenomena hukum yang ‘diperjualbelikan’ harus disudahi.
  2. Di samping itu, perlu secara berkesimbungan memperkecil gap ekonomi antar wilayah, antar kelompok, dan antar anggota masyarakat. Ini, tentu saja bukan perkara gampang, karena sesungguhnya yang namanya gap ekonomi itu pasti ada di bagian wilayah manapun di dunia. Yang penting adalah bagaimana upaya pemerintah, swasta, dan seluruh komponen masyarakat untuk memperkecil gap itu sehingga dapat mengurangi kecemburuan sosial di samping berusaha meningkatkan solidaritas dan toleransi antar anggota masyarakat.
  3. Selanjutnya, para pemimpin, baik formal maupun informal, mesti melakukan introspeksi diri, sehingga dapat keluar dari kebiasaan lama yang kurang terpuji dan kembali menjadi teladan atau panutan yag baik bagi masyakarat yang dipimpinnya. Hendaknya ada kesediaan atau kerelaan untuk mulat sarira tanpa harus merasa tersinggung ketika ada orang lain yang mengingatkan.
  4. Last but not least, masyarakat harus diperkuat mentalnya melalui berbagai siraman rohani dan pemahaman terhadap ketentuan hukum yang berlaku, sehingga lebih tangguh dalam menghadapi para provokator yang mungkin saja menyelinap diantara mereka tanpa disadari, baik secara fisik maupun secara ideologis (melalui pemikiran yang menyesatkan). Harus senantiasa diingatkan kepada masyarakat, terutama di daerah-daerah yang rawan konflik, bahwa kekerasan itu tiada gunanya, semua pihak akan rugi, bagai kayu yang sama-sama habis terbakar: yang satu jadi abu, yang lain jadi arang.

Dunia pendidikan sangat memungkinkan untuk membudayakan pemecahan konflik yang akhirnya dapat mencegah perilaku kekerasan. Saat ini ada gerakan pemecahan konflik yang kemudian sering disebut dengan Alternative Dispute Resolution (ADR). Dalam perkembangannya, ADR kemudian juga lebih populer disebut dengan conflict resolution (Resolusi Konflik).
Berbagai bentuk resolusi konflik yang dapat diintegrasikan dalam program pendidikan antara lain: (1) negosiasi; (2) mediasi; (3) arbitrasi; (4) mediasi-

PERAN MAHASISWA SEBAGAI KELOMPOK BUDAYA POLITIK PARTISIPAN

PERAN MAHASISWA SEBAGAI KELOMPOK BUDAYA POLITIK PARTISIPAN

 

 

 

 

 

Oleh:

Nama   :  I ketut Ardana Yasa

NPM    : 11.33.121.045

Kelas   :  D1

 

 

 

 

 

 

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS WARMADEWA TAHUN AJARAN 2011/2012

 

 

 

KATA PENGANTAR

 

          Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahkmatnyalah penulis bisa menyelesaikan karya tulis berupa paper yang berjudul “Peran Mahasiswa Sebagai Kelompok Budaya Politik Partisipan”. Adapun yang akan diuraikan dalam paper ini adalah pengertian budaya politik,pengertian budaya politik partisipan dan peran aktif mahasiswa dalam menerapkan budaya politik partisipan di lingkungan keluarga, kampus, masbudaya politik,pengertian budaya politik partisipan dan peran aktif mahasiswa didalamnya.

          Adapun tujuan dari penulisan karya tiulis ini adalah untuk memberikan informasi mengenai budaya politik khususnya budaya politik partisipan. Selain itu juga untuk mencari peranan-peranan  mahasiswa dalam menerapkan budaya politik partisipan di lingkungan keluarga, kampus, masyarakat dan pemerintahan Negara.

          Untuk memperoleh informasi yang penulis butuhkan, penulis melakukan pencarian di internet dan membaca buku-buku mengenai kebudayaan. Penulis menyadari bahwa apa yang telah dipaparkan dalam karya tulis ini masih jauh dari sempurna baik menyangkut isi,teknis, maupun bahasa. Untuk itu, segala kritik yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan demi kelengkapan karya tulis ini.

          Demikianlah yang dapat penulis sampaikan, penulis berharap karya tulis ini bisa memberikan tambahan pengetahuan mengenai budaya politik partisipan dan mendorong generasi muda untuk lebih aktif telibat dalam dunia politik bangsa ini

 

                                                                                               Denpasar, Mei 2012

.

 

                                                                                                      Penulis,

 

ABSTARKSI

Secara etimologis, istilah kebudayaan berasal dari beberapa bahasa, antara lain: Culture (Bahasa Inggris) artinya budaya, Colore (Bahasa Latin) artinya budaya, dan Akhlaq (Bahasa Arab) artinya peradaban atau budi.Kata “kebudayaan” berasala dari bahasa Sanskerta yaitu buddhaya yang merupakan bentuk jamak dari kata buddhi, artinya akal. Selanjutnya dikembangkan menjadi kata budidaya yang artinya kemampuan akal budi seseorang ataupun sekelompok orang.Menurut Koentjaraningrat, kebudayaan adalah keseluruhan sisitem gagasan, tindak dan hasil karya dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik manusia dengan cara belajar. Pada umumnya istilah politik dapat diartikan sebagai bermacam-macam kegiatqn dalam suatu system politk atau Negara yang menyangkut proses menetukan tujuan-tujuan dari system itu dan melaksanakan tujuan-tujuan itu. Politik menyangkut tujuan-tujuan seluruh masyarakat, termasuk kegiatan berbagai kelompok baik partai poltik maupun individu. Konsep-konsep pokok politik adalah Negara, kekuasaaan, pengambilan keputusan, kebijakan, dan pembagian kekuasaan.

Budaya politik adalah aspek politik dari nilai-nilai yang terdiri atas pengetahuan, adat istiadat, tahayul, dan mitos. Kesemuanya dikenal dan diakui oleh sebagian besar masyarakat. Budaya politik tersebut memberikan rasional untuk menolak atau menerima nilai-nilai dan norma lain.Budaya politik dapat dilihat dari aspek doktrin dan aspek generiknya. Yang pertama menekankan pada isi atau materi, seperti sosialisme, demokrasi, atau nasionalisme. Yang kedua (aspek generik) menganalisis bentuk, peranan, dan ciri-ciri budaya politik, seperti militan, utopis, terbuka, atau tertutup.Hakikat dan ciri budaya politik yang menyangkut masalah nilai-nilai adalah prinsip dasar yang melandasi suatu pandangan hidup yang berhubungan dengan masalah tujuan.Bentuk budaya politik menyangkut sikap dan norma, yaitu sikap terbuka dan tertutup, tingkat militansi seseorang terhadap orang lain dalam pergaulan masyarakat.

                  Budaya politik partisipan adalah individu yang berorientasi terhadap struktur inputs dan proses dan terlibat didalamnya atau melihat dirinya sebagai potensial terlibat, mengartikulasikan tuntutan dan membuat keputusan.Budaya partisipan yaitu budaya dimana masyarakat sangat aktif dalam kehidupan politik, danmasyarakat yang bersangkutan sudah relatif maju baik sosial maupun ekonomi, tetapi masihbersifat pasif.Contoh budaya politik partisipan ini antara lain adalah peranserta masyarakat dalampengembangan budaya politik yang sesuai dengan tata nilai budaya bangsa Indonesia.

                Mahasiswa sebagai kaum intelektual yang berdasarkan keilmuannya itu semestinya dapat melihat segala kemungkinan yang terjadi dari penyelenggaraan negara di semua bidang. Adalah logis bila mahasiswa menawarkan solusi dan kritisasi terhadap penyelenggaraan negara berdasarkan kompetensinya sebagai komunitas intelektual atas dasar kepeduliannya terhadap kondisi.Sebab, dari komunitas ini kita memiliki agent of control yang mumpuni dengan jumlah kuantitatif mahasiswa Indonesia hari ini.

Sebagai Mahasiswa sudah selayaknya ikut serta membangun budaya politik partisipan agar mampu mewujudkan masyarakat demokratis yang stabil. Sebagai generasi penerus bangsa, generasi muda perlu memupuk kesadaran untuk belajar dan berlatih sesuai dengan tingkat dan kemampuan dalam berbagai kegiatan politik di lingkungan masing-masing, misalnya, peran serta di lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat, dan negara.  Peran serta dalam budaya politik partisipan, tidak dapat muncul secara instan tetapi melalui proses yang panjang melalui sosialisasi sejak kanak-kanak, sampai dewasa bahkan sampai tua di lingkungan masyarakat, bangsa, dan negara. Peran serta mahasiswa dalam budaya politik partisipan, tidak dapat muncul secara instan tetapi melalui proses yang panjang melalui sosialisasi sejak kanak-kanak, sampai dewasa bahkan sampai tua di lingkungan masyarakat, bangsa, dan negara. Dalam lingkungan keluarga,Peran serta mahasiswa dalam budaya politik partisipan dapat dilakukan dengan memahami dan menghormati kedudukan semua anggota keluarga. Misalnya, menghormati peran ayah sebagai kepala keluarga sesuai dengan kedudukan, kewenangan, fungsi dan tanggung jawabnya. Dalam Lingkungan kampus, dapat diwujudkan dengan partisipasi dalam kegiatan Organisasi Badan Eksekutif Mahasiswa. Mahasiswa dapat memberikan masukan, usul, saran atau kritik yang membangun untuk kemajuan kegiatan BEM dalam rangka penyusunan dan pelaksanaan program-program BEM di kampus masing-masing. Dalam lingkungan masyarakat, Mahasiswa atau generasi muda dapat ikut aktif dalam kegiatan karang taruna, remaja masjid, organisasi pemuda, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), dan organisasi kemasyarakatan yang lain. Dalam lingkungan pemerintahan Negara, dapat menerapkan budaya politik partisipan melalui pengalaman-pengalaman politik dalam kegiatan-kegiatan politik negara, misalnya menjadi anggota atau simpatisan partai politik, menyaksikan atau mengikuti debat politik antar elite politik melalui berbagai media, mengikuti kampanye pemilihan umum, memberikan suara dalam pemilihan umum untuk pemilihan bupati/walikota, anggota DPRD, DPR RI, dan presiden.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

HALAMAN JUDUL……………………………………………………. i

KATA PENGANTAR…………………………………………………. ii

ABSTRAKSI………………………………………………………………. iii

DAFTAR ISI………………………………………………………………. v

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang………………………………………………………………………… 1

1.2 Rumusan Masalah……………………………………………………………………. 2

1.3 Tujuan penulisan………………………………………………………………………. 2

1.4 Manfaat penulisan……………………………………………………………………. 2

BAB II PEMBAHASAN

2.1.1  Pengertian budaya………………………………………………………………. 3

2.1.2  Pengertian politik………………………………………………………………… 4

2.1.3  Pengertian budaya politik…………………………………………………….. 5

2.2.1  pengertian budaya politik partisipan………………………………………. 6

2.2.2  Bentuk Budaya Politik Partisipan………………………………………….. 7

2.3.    Sikap positif mahasiswa terhadap budaya politik…………………….. 8

2.4     Kemampuan mahasiwa berperan serta

          dalam budaya politik partisipan…………………………………………….. 10

2.5     Mahasiswa sebagai kelompok budaya politik partisipan

          ditengah perkembangan teknologi…………………………………………. 13

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan……………………………………………………………………………. 15

3.2 Saran…………………………………………………………………………………….. 16

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 Pendahuluan

Kehidupan manusia di dalam masyarakat, memiliki peranan penting dalam sistem politik suatu negara. Kebutuhan hidup manusia tidak cukup yang bersifat dasar, seperti makan, minum, biologis, pakaian dan papan (rumah). Kebutuhan manusia juga mencakup kebutuhan akan pengakuan eksistensi diri dan penghargaan dari orang lain dalam bentuk pujian, pemberian upah kerja, status sebagai anggota masyarakat, anggota suatu partai politik tertentu dan sebagainya. Setiap warga negara, dalam kesehariannya hampir selalu bersentuhan dengan aspek-aspek politik praktis baik yang bersimbol maupun tidak. Proses pelaksanaannya dapat terjadi secara langsung atau tidak langsung dengan praktik-praktik politik.Secara tidak langsung, hal ini sebatas mendengar informasi, atau berita-berita tentang peristiwa politik yang terjadi. Secara langsung, berarti orang tersebut terlibat dalam peristiwa politik tertentu.

Kehidupan politik yang merupakan bagian dari keseharian dalam interaksi antar warga negara dengan pemerintah, dan institusi-institusi di luar pemerintah (non-formal), telah menghasilkan dan membentuk variasi pendapat, pandangan dan pengetahuan tentang praktik-praktik perilaku politik dalam semua sistem politik. Oleh karena itu, seringkali kita bisa melihat dan mengukur pengetahuan, perasaan dan sikap warga negara terhadap negaranya, pemerintahnya, pemimpim politik dan lai-lain. Budaya politik, merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat dengan ciri-ciri yang lebih khas. Istilah budaya politik meliputi masalah legitimasi, pengaturan kekuasaan, proses pembuatan kebijakan pemerintah, kegiatan partai-partai politik, perilaku aparat negara, serta gejolak masyarakat terhadap kekuasaan yang me­merintah. Kegiatan politik juga memasuki dunia keagamaan, kegiatan ekonomi dan sosial, kehidupan pribadi dan sosial secara luas.

Setiap warga Negara kususnya mahasiswa sudah sepatutnya memerhatikan kehidupan politik negaranya. Mahasiswa sebagai kaum intelektual yang berdasarkan keilmuannya itu semestinya dapat melihat segala kemungkinan yang terjadi dari penyelenggaraan negara di semua bidang. Mahasiswa bisa menawarkan solusi dan kritisasi terhadap penyelenggaraan negara berdasarkan kompetensinya sebagai komunitas intelektual atas dasar kepeduliannya terhadap kondisi kehidupan politik bangsa ini. Mahasiswa adalah kelompok masyarakat dengan budaya politik partisipan, oleh karena itu mahasiswa harus aktif mengikuti perkembangan politik bangsa ini dan menjadi ujung tombak dalam perjuangan politik masyarakat.

 

1.2 Rumusan Masalah

          Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan sebelumnya, maka dapat dibuat rumusan masalahnya sebagai berikut :

1.2.1 Apa yang dimaksud dengan budaya politik ?

1.2.2 Apa yang dimaksud dengan budaya politik partisipan?

1.2.3 Apa peranan mahasiswa sebagai kelompok budaya politik partisipan?

 

1.3 Tujuan penulisan

          Adapun tujuan penulisan paper ini adalah:

1.3.1 Untuk mengetahui pengertian budaya politik .

1.3.2 Untuk mengetahui pengertian dan bentuk  budaya politik partisipan.

1.3.3 Untuk mengetahui peranan mahasiswa sebagai kelompok budaya politik partisipan.

 

1.4 Manfaat penulisan

1.4.1    Bagi mahasiswa

Mahasiswa diharapkan bisa lebih memahami budaya politik, dan bisa mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari serta berperan aktif dalam mengikuti perkembangan politik bangsa ini.

1.4.2           Bagi lembaga pendidikan

Karya tulis ini diharapkan dapat memberikan tambahan daftar bacaan di perpustakaan  memgenai budaya politik beserta unsure-unsur didalamnya.

1.4.3        Bagi Masyarakat umum

masyarakat diharapkan akan lebih memahami budaya politik dan lebih aktif dalam mengawasi maupun terjun dalam kehidupan politik bangsa ini. Sehingga masyarakat yang apatis akan berkurang dan budaya politik bangsa Indonesia akan berkembang.

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1 Pengertian Budaya

2.1.1 Pengertian budaya

Secara etimologis, istilah kebudayaan berasal dari beberapa bahasa, antara lain: Culture (Bahasa Inggris) artinya budaya, Colore (Bahasa Latin) artinya budaya, dan Akhlaq (Bahasa Arab) artinya peradaban atau budi.Kata “kebudayaan” berasala dari bahasa Sanskerta yaitu buddhaya yang merupakan bentuk jamak dari kata buddhi, artinya akal. Selanjutnya dikembangkan menjadi kata budidaya yang artinya kemampuan akal budi seseorang ataupun sekelompok orang.Menurut Koentjaraningrat, kebudayaan adalah keseluruhan sisitem gagasan, tindak dan hasil karya dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik manusia dengan cara belajar. Sedangkan menurut Moh. Hatta , kebudayaan adalah ciptaan dari suatu bangsa.Menurut Zoetmulder, kebudayaan adalah perkembangan terpimpin oleh manusia budayawan dari kemungkinan-kemungkinan dan tenaga-tenaga alam terutama alam manusia, sehingga merupakan satu kesatuan harmonis.

Substansi utama budaya adalah sistem pengetahuan, pandangan hidup, kepercayaan, persepsi, dan etos kebudayaan. Tiga unsur yang terpenting adalah sistem pengetahuan, nilai, dan pandangan hidup.

  1. Sistem Pengetahuan.Para ahli menyadari bahwa masing-masing suku bangsa di dunia memiliki sistem pengetahuan tentang : alam sekitar,alam flora dan fauna, zat-zat, manusia, sifat-sifat dan tingkah laku sesama manusia serta ruang dan waktu. Unsur-usur dalam pengetahuan inilah yang sebenarnya menjadi materi pokok dalam dunia pendidikan di seluruh dunia.
  2. Nilai.Menilai berarti menimbang, yaitu kegiatan manusia untuk menghubungkan sesuatu dengan sesuatu yang lain untuk dijadikan pertimbangan dalam mengambil keputusan. Keputusan nilai dapat menentukan sesuatu berguna atau tidak berguna, benar atau salah, baik atau buruk, religius atau sekuler, sehubungan dengan cipta, rasa dan karsa manusia.Sesuatu dikatakan mempunyai nilai apabila berguna dan berharga (nilai kebenaran), indah (nilai estetis), baik (nilai moral atau etis), religius (nilai agama).  Prof. Dr. Notonagoro membagi nilai menjadi tiga bagian yaitu:

ü  Nilai material, yaitu segala sesuatu (materi) yang berguna bagi manusia.

ü  Nilai vital, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat mengadakan kegiatan dan aktivitas

ü  Nilai kerohanian, yaitu segala sesuatu yang bisa berguna bagi rohani manusia.

  1. Pandangan Hidup.Pandangan hidup adalah suatu nilai-nilai yang dianut oleh suatu masyarakat dan dipilih secara selektif oleh individu, kelompok atau suatu bangsa. Pandangan hidup suatu bangsa adalah kristalisasi nilai-nilai yang dimiliki oleh bangsa itu sendiri, yang diyakini kebenarannya, dan menimbulkan tekad pada bangsa itu untuk mewujudkannya.

2.1.2 Pengertian Politik

Pada umumnya istilah politik dapat diartikan sebagai bermacam-macam kegiatan dalam suatu system politk atau Negara yang menyangkut proses menetukan tujuan-tujuan dari system itu dan melaksanakan tujuan-tujuan itu. Politik menyangkut tujuan-tujuan seluruh masyarakat, termasuk kegiatan berbagai kelompok baik partai poltik maupun individu. Konsep-konsep pokok politik adalah Negara, kekuasaaan, pengambilan keputusan, kebijakan, dan pembagian kekuasaan.Pengambilan keputusan menyangkut seleksi antara beberapa alternative dan penyusutan skala prioritas dari tujuan-tujuan yang telah dipilih. Untuk melaksanakan tujuan-tujuan itu, perlu ditentukan kebijaksanaan-kebijaksanaan umum yang menyangkut pengaturan dan pembagian sumber-sumber yang ada. Untuk melaksanakan kebijaksanaan itu, perlu dimiliki kekuasaan dan kewenangan yang akan dipakai, baik untuk membina kerja sama maupun untuk menyelesaikan konflik yang mungkin akan timbul dalam proses tersebut.

 

 

2.1.3 Pengertian budaya politik

Budaya politik merupakan sistem nilai dan keyakinan yang dimiliki bersama oleh masyarakat. Namun, setiap unsur masyarakat berbeda pula budaya politiknya, seperti antara masyarakat umum dengan para elitenya. Seperti juga di Indonesia, menurut Benedict R. O’G Anderson, kebudayaan Indonesia cenderung membagi secara tajam antara kelompok elite dengan kelompok massa.

Almond dan Verba mendefinisikan budaya politik sebagai suatu sikap orientasi yang khas warga negara terhadap sistem politik dan aneka ragam bagiannya, dan sikap terhadap peranan warga negara yang ada di dalam sistem itu. Dengan kata lain, bagaimana distribusi pola-pola orientasi khusus menuju tujuan politik diantara masyarakat bangsa itu. Lebih jauh mereka menyatakan, bahwa warga negara senantiasa mengidentifikasikan diri mereka dengan simbol-simbol dan lembaga kenegaraan berdasarkan orientasi yang mereka miliki. Dengan orientasi itu pula mereka menilai serta mempertanyakan tempat dan peranan mereka di dalam sistem politik.

Berikut ini adalah beberapa pengertian budaya politik yang dapat dijadikan sebagai pedoman untuk lebih memahami secara teoritis sebagai berikut :

a.       Budaya politik adalah aspek politik dari nilai-nilai yang terdiri atas pengetahuan, adat istiadat, tahayul, dan mitos. Kesemuanya dikenal dan diakui oleh sebagian besar masyarakat. Budaya politik tersebut memberikan rasional untuk menolak atau menerima nilai-nilai dan norma lain.

b.      Budaya politik dapat dilihat dari aspek doktrin dan aspek generiknya. Yang pertama menekankan pada isi atau materi, seperti sosialisme, demokrasi, atau nasionalisme. Yang kedua (aspek generik) menganalisis bentuk, peranan, dan ciri-ciri budaya politik, seperti militan, utopis, terbuka, atau tertutup.

c.       Hakikat dan ciri budaya politik yang menyangkut masalah nilai-nilai adalah prinsip dasar yang melandasi suatu pandangan hidup yang berhubungan dengan masalah tujuan.

d.      Bentuk budaya politik menyangkut sikap dan norma, yaitu sikap terbuka dan tertutup, tingkat militansi seseorang terhadap orang lain dalam pergaulan masyarakat. Pola kepemimpinan (konformitas atau mendorong inisiatif kebebasan), sikap terhadap mobilitas (mempertahankan status quo atau men­dorong mobilitas), prioritas kebijakan (menekankan ekonomi atau politik).

Dengan pengertian budaya politik di atas, nampaknya membawa kita pada suatu pemahaman konsep yang memadukan dua tingkat orientasi politik, yaitu sistem dan individu. Dengan orientasi yang bersifat individual ini, tidaklah berarti bahwa dalam memandang sistem politiknya kita menganggap masyarakat akan cenderung bergerak ke arah individualisme. Jauh dari anggapan yang demikian, pandangan ini melihat aspek individu dalam orientasi politik hanya sebagai pengakuan akan adanya fenomena dalam masyarakat secara keseluruhan tidak dapat melepaskan diri dari orientasi individual.

2.2 Pengertian Budaya politik partisipan

2.2.1 Pengertian

Budaya politik partisipan ditandai oleh anggota masyarakat yang aktif dalam kehidupan politik. Seseorang dengan sendirinya menyadari setiap hak dan tanggung jawabnya. Seseorang dalam budaya politik partisipan dapat menilai dengan penuh kesadaran system politik secara totalitas, input dan output maupun possisi dirinya dalam politik. Dengan demikian, setiap anggota msyarakat terlibat dalam sisitem politik yang berlaku betapa kecil peran yang dijalankannya. Budaya politik partisipan dalam pemahaman yang demikian tidak lain merupakan wujud dari dilaksanakannya budaya demokrasi dalam masyarakat. Sebab budaya demokrasi member tekanan pada pelaksanaan pemeritahan dari, oleh, dan untuk rakyat. Misalnya mengkritisi kebijakn pemerintah melalui opini-opini di media massa, mematuhi peraturan perundang-undangan, melaporkan bila menemukan penyelewengan hukum sesuai prosedur.

Budaya politik partisipan adalah individu yang berorientasi terhadap struktur inputs dan proses dan terlibat didalamnya atau melihat dirinya sebagai potensial terlibat, mengartikulasikan tuntutan dan membuat keputusan.Budaya partisipan yaitu budaya dimana masyarakat sangat aktif dalam kehidupan politik, danmasyarakat yang bersangkutan sudah relatif maju baik sosial maupun ekonomi, tetapi masihbersifat pasif.Contoh budaya politik partisipan ini antara lain adalah peranserta masyarakat dalampengembangan budaya politik yang sesuai dengan tata nilai budaya bangsa Indonesia.Dalam kehidupan nyata tidak ada satupun negara yang memiliki budaya politik murnipartisipan, melainkan terdapat variasi campuran di antara tipe-tipe partisipan, pariokal atausubyek, ketiganya menurut para ahli tervariasi ke dalam tiga bentuk budaya politik, yaitu :

a. Budaya politik subyek-parokial (the parochial- subject culture)

b. Budaya politik subyek-partisipan (the subject-participant culture)

c. Budaya politik parokial-partisipan (the parochial-participant culture)Budaya partisipan adalah budaya dimana masyarakat sangat aktif dalam kehidupan politik.Masyarakat dengan budaya politik partisipasi, memiliki orientasi yang secara eksplisit ditujukankepada sistem secara keseluruhan, bahkan terhadap struktur, proses politik dan administratif.Tegasnya terhadap input maupun output dari sistem politik itu.

 

Dalam budaya politik itu seseorang atau orang lain dianggap sebagai anggota aktif dalam kehidupan politik, masyarakat juga merealisasi dan mempergunakan hak-hak politiknya.Dengan demikian, masyarakat dalambudaya politik partsipan tidaklah menerima begitu saja keputusan politik. Hal itu karenamasyarakat telah sadar bahwa betapa kecilnya mereka dalam sistem politik, meskipun tetapmemiliki arti bagi berlangsungnya sistem itu.

 

2.2.2 Bentuk Budaya Politik Partisipan

 

Secara umum, bentuk budaya partisipasi politik dapat dibedakan dalam kegiatan politik yangberbentuk konvensional dan non konvensional, termasuk yang legal (petisi) dan nonlegal.Konvensional, artinya berdasarkan kesepakatan umum atau kebiasaan yang sudah menjaditradisi. Legal, artinya sesuai dengan undang  undang atau hukum yang berlaku. Jadi, partisipasiyang konvensional-legal berarti kegiatan politik yang dilaksanakan secara lazim berdasarkanperaturan perundang-undangan atau ketentuan hukum yang berlaku.Lawan dari partisipasi konvensional legal adalah inkonvensional-ilegal atau partisipasi politikinkonstitusional dengan cara kekerasan atau revolusi. Kekurangan politik yang melaksanakanpartisipasi politik demikian biasanya tidak pernah mengindahkan etika berpolitik. Mereka lebihmenyukai tindakan kekerasan (anarkhis).Bentuk-bentuk dan frekuensi partisipasi politik dapat digunakan sebagai ukuran atau standaruntuk menilai stabilitas sistem politik di sebuah negara. Bentuk partisipasi politik warga negara juga bisa menjadi mediauntuk melakukan intergrasi kehidupan politik, termasuk menangkaprasa puas atau tidak puas setiap warga negara terhadap pemerintahan yang berkuasa saat itu.Kerusakan dari cara inkonstusional-ilegal akan berdampak pada kehidupan mereka sendiri.Misalnya, jika negara kita terus dilanda oleh kerusuhan dan tindakan anarkhi lainnya, stabilitaspolitik keamanan akan terganggu. Citra buruk sebagai bangsa barbar akan muncul. Akibatlanjutannya, para investir akan lari. Sistem kehidupan ekonomi akan terganggu. Angkapengangguran akan semakin besar. Konflik sosial akan semakin merajalela.Dapatkah kondisi ini menciptakan rasa aman ?

 

2.3 Sikap Positif Mahasiswa Terhadap Budaya Politik

Mahasiswa sebagai kaum intelektual yang berdasarkan keilmuannya itu semestinya dapat melihat segala kemungkinan yang terjadi dari penyelenggaraan negara di semua bidang. Adalah logis bila mahasiswa menawarkan solusi dan kritisasi terhadap penyelenggaraan negara berdasarkan kompetensinya sebagai komunitas intelektual atas dasar kepeduliannya terhadap kondisi.Dari komunitas ini kita memiliki agent of control yang mumpuni dengan jumlah kuantitatif mahasiswa Indonesia hari ini. Mahasiswa sebagai kaum muda yang akan memimpin nakhoda pemerintahan, sebagian besar  telah terwarnai sangat pekat dengan obsesi pribadi dan menghilangkan kepekaannya terhadap kepentingan berbangsa dan bernegara. Sumber daya masa depan ini hanya justru menjadi ancaman. Sebab, hanya akan menambah besar jumlah pengangguran, dan bukan mencari atau menjadi solusi bangsanya akibat sikap acuh terhadap permasalahan yang bersifat makro.Kepedulian mahasiswa yang sudah menjadi hal yang langka, ketika sebagian mahasiswa hanya mampu kritis terhadap elite politik dan sebagian besar lainnya hanya diam. Dengan keilmuan terapan yang dimiliki tidak banyak mahasiswa yang mau terjun langsung ke tengah masyarakat memberikan solusi kemasyarakatan pada tataran objek bangsa ini yaitu rakyat. Mulai dari tawaran perbaikan tarap kemampuan hidup atau mencerdaskan kehidupan bernegara.Dengan fakta hari ini, mahasiswa sudah berdiaspora dalam berbagai kepentingan politik pragmatis dan sedikit yang ideologis. Pragmatisme menjadi determinasi di berbagai level pergerakan tidak terkecuali mahasiswa sehingga rakyat kecil yang selama ini hanya menjadi penanggung penderitaan bangsa ini semakin teracuhkan.

Dalam studi yang dilakukan oleh Almond dan Verba, ditemukan bahwa negara-negara yang mempunyai budaya politik yang sudah matang akan menopang demokrasi yang stabil. Sebaliknya, negara-negara yang memiliki derajat budaya politik yang belum matang tidak mendukung terwujudnya demokrasi yang stabil. Kematangan budaya politik tersebut ditunjukkan dengan besarnya peluang yang diberikan oleh negara kepada masyarakat untuk mandiri, sehingga memiliki kompetensi politik yang tinggi.Dalam suatu masyarakat, di mana sebagian besar warga masyarakatnya memiliki kompetensi politik yang tinggi akan membentuk budaya politik partisipan atau demokratis. Mereka mampu menjalankan peran politiknya secara aktif melalui berbagai kegiatan politik. Mereka merupakan anggota aktif organisasi kemasyarakatan atau partai politik, atau anggota masyarakat biasa yang mampu menilai dengan penuh kesadaran mengenai sistem politik yang sedang berjalan, mampu memberi masukan untuk kebijakan pemerintah, serta mampu meraih posisi politik sesuai dengan keinginan.

Seperti telah diuraikan terdahulu, pembentukan budaya partisipan hanya dapat diciptakan setelah melalui proses sosialisasi politik yang dapat mewariskan berbagai nilai politik dari satu generasi ke generasi berikutnya, dapat melalui berbagai agen seperti keluarga, teman sepergaulan, sekolah atau perguruan tinggi, partai politik, dan media massa yang menghasilkan individu mandiri.Kepribadian dan kesadaran individu juga merupakan penentu bagi seseorang untuk mampu melaksanakan aktivitas politiknya secara mandiri. Kesadaran individu ini berkaitan erat dengan hasrat dan minat yang kuat untuk ikut berperan dalam kehidupan politik, sehingga dengan berbagai cara dan upaya ia akan meningkatkan ilmu dan keterampilannya serta menambah pengalaman politiknya dengan melibatkan diri secara aktif ke dalam kancah politik. Tanpa kesadaran politik yang tinggi dan niat yang kuat, mungkin seorang individu cukup puas dengan peran politik yang pasif.

              Banyak orang-orang yang menganggap bahwa dunia politik itu kotor, licik, penuh dengan muslihat dan kekerasan. Hal ini disebabkan pemahaman dan pengetahuan mengenai kehidupan politik masih sangat sempit, juga terdapat fakta sering adanya kekerasan dalam perebutan pengaruh dan kekuasaan politik. Kondisi yang demikian menunjukkan rendahnya budaya politik masyarakat, sehingga praktik-praktik politik yang diperankan oleh para tokoh politik kadangkala menimbulkan penilaian dan citra negatif. Masyarakat cenderung beranggapan bahwa untuk memperebutkan suatu posisi politik atau untuk mencapai tujuan politik boleh menghalalkan segala cara, sehingga bertentangan dengan nilai-nilai budaya bangsa Indonesia.

              Sebagai generasi muda yang terpelajar, sudah sewajarnya apabila para pemuda memiliki sikap dan pandangan yang positif terhadap budaya politik yang berkembang dalam masyarakat Indonesia yang sedang bergulir menuju budaya politik yang demokratis. Hal ini dapat dilakukan dengan mempelajari, memahami, bersikap kritis dan demokratis terhadap perkembangan budaya politik masyarakat Indonesia, sehingga pada saatnya nanti akan mampu berperan dalam kancah politik yang lebih luas, dengan sikap dan budaya politik yang lebih mapan.

 

2.4  Kemampuan Mahasiswa Berperan Serta dalam Budaya Politik Partisipan

Sebagai Mahasiswa yang berintelektual sudah selayaknya ikut serta membangun budaya politik partisipan agar mampu mewujudkan masyarakat demokratis yang stabil. Sebagai generasi penerus bangsa, generasi muda perlu memupuk kesadaran untuk belajar dan berlatih sesuai dengan tingkat dan kemampuan dalam berbagai kegiatan politik di lingkungan masing-masing, misalnya, peran serta di lingkungan keluarga, lingkungan kampus, lingkungan masyarakat, dan negara.  Peran serta dalam budaya politik partisipan, tidak dapat muncul secara instan tetapi melalui proses yang panjang melalui sosialisasi sejak kanak-kanak, sampai dewasa bahkan sampai tua di lingkungan masyarakat, bangsa, dan negara.

2.4.1 Peran Serta Budaya Politik Partisipan dalam Lingkungan Keluarga

Keluarga merupakan lingkungan masyarakat yang terkecil, di mana seorang anak sebagai anggota keluarga belajar dan berlatih untuk memahami dan menghayati nilai, norma dan pola perilaku melalui pendidikan awal dalam proses sosialisasi politik. Peran serta budaya politik partisipan dapat dilakukan dengan memahami dan menghormati kedudukan semua anggota keluarga, baik kedudukan ayah, ibu, serta anak-anaknya. Misalnya, menghormati peran ayah sebagai kepala keluarga sesuai dengan kedudukan, kewenangan, fungsi dan tanggung jawabnya.

Sebagai seorang anak, baik dalam posisi sebagai kakak atau adik, wajib memahami hak dan kewajiban masing-masing anggota keluarga dengan menunjukkan sikap dan perilaku yang sesuai dengan pola perilaku keluarga dan masyarakat. Peran serta budaya politik partisipan dalam keluarga, misalnya ikut memberi masukan dalam pengambilan keputusan keluarga secara musyawarah. Apabila peran serta budaya politik partisipan ini dapat berlangsung dengan baik dalam suasana budaya yang demokratis maka sikap dan perilaku dalam keluarga akan mendasari sikap dan perilaku di lingkungan yang lebih luas.Negara Republik Indonesia telah mengeluarkan peraturan-peraturan yang berkaitan dengan hak dan kewajiban individu dalam keluarga, misalnya Undang-Undang Perkawinan, Undang-Undang tentang Perlindungan Anak, Undang-Undang tentang Perlindungan terhadap Kekerasan dalam Rumah Tangga. Semua peraturan perundangan ini wajib ditaati oleh semua warga negara atau warga masyarakat demi ketenteraman, keamanan, dan kebahagiaan semua anggota keluarga.

Apabila semua anggota keluarga dapat menerapkan budaya politik partisipan atau demokratis, niscaya kehidupan keluarga akan tenteram dan bahagia, namun sebaliknya apabila masing-masing anggota keluarga bersikap dan berperilaku tidak sesuai dengan nilai dan norma yang ada maka akan muncul konflik yang berakibat hancurnya ketenteraman keluarga.

2.4.2. Peran Serta Budaya Politik Partisipan dalam Lingkungan Sekolah

Universitas  merupakan lembaga pendidikan, di mana para mahasiswa belajar dan berlatih berbagai macam ilmu, keterampilan, nilai, dan norma yang akan membekali kehidupan masa depan. Di universitas atau kampus, peserta didik akan beradaptasi dengan lingkungan kampus, baik dengan dosen, para dekan, pegawai tata usaha, teman sekelas, kakak kelas, maupun adik kelas. Peserta didik akan menemukan pengalaman-pengalaman baru yang lebih luas untuk mendukung budaya politik partisipan.

Peran serta politik dalam kampus dapat diwujudkan dalam pemilihan pengurus BEB atau SENAT secara langsung.Peran serta budaya politik partisipan di lingkungan kampus dapat dilakukan dengan menunjukkan sikap dan perilaku yang sesuai dengan tata tertib atau peraturan-peraturan kampus.Peran serta budaya politik partisipan yang lebih nyata, dapat diwujudkan dalam kegiatan Organisasi Badan Eksekutif Mahasiswa. Setiap tahun akan diadakan pemilihan pengurus BEM secara langsung dan demokratis. Sebagai warga kampus yang baik, semua peserta didik wajib ikut secara aktif mengikuti seluruh kegiatan ini, mulai dari proses pencalonan, proses seleksi, kampanye, penyampaian visi dan misi, sampai dengan pemungutan suara dan perhitungan suara. Mahasiswa dapat berperan aktif mengembangkan budaya politik partisipan dengan cara mencalonkan diri sebagai pengurus BEM, sebagai tim seleksi, tim sukses, mempersiapkan dan mengikuti kampanye, mendengarkan dan menanggapi penyampaian visi dan misi atau mengikuti debat antarkandidat, memberikan dukungan suara dalam pemungutan suara, serta menyaksikan perhitungan suara dan pelantikan pengurus BEM yang terpilih.

Mahasiswa juga dapat memberikan masukan, usul, saran atau kritik yang membangun untuk kemajuan kegiatan BEM dalam rangka penyusunan dan pelaksanaan program-program BEM di kampus masing-masing.. Mahasiswa sangat diharapkan untuk berperan serta dalam pengembangan politik yang demokratis untuk kepentingan masyarakat, bangsa, dan negara.Peran serta budaya politik partisipan ini merupakan proses sosialisasi politik yang memberikan pengalaman berharga bagi generasi muda dalam rangka pengembangan budaya politik di masa datang dalam lingkungan masyarakat yang lebih luas, misalnya di lingkungan kabupaten atau kota, provinsi, negara nasional maupun internasional.

2.4.3. Peran Serta Budaya Politik Partisipan di Lingkungan Masyarakat

Mahasiswa atau Generasi muda dapat menerapkan budaya politik partisipan, baik di lingkungan masyarakat di sekitar tempat tinggal, misalnya di kampung atau desa, juga lembaga-lembaga kemasyarakatan yang lain. Sebagai warga masyarakat, para pemuda dapat ikut aktif dalam kegiatan karang taruna, remaja masjid, organisasi pemuda, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), dan organisasi kemasyarakatan yang lain.

Pada usia remaja sebagian besar pemuda menginginkan pengembangan jati diri dengan berbagai aktivitas sesuai dengan minat dan kemampuannya. Untuk mengembangkan kemampuan di bidang politik, generasi muda dapat menyalurkan bakat dan minatnya sebagai partisipan atau simpatisan partai-partai politik, dan organisasi kemasyarakatan yang memiliki potensi dan kapasitas di bidang politik, misalnya sebagai pengurus atau anggota organisasi pemuda. Sebagai aktivis sebuah organisasi, para pemuda akan banyak terlibat dalam kegiatan-kegiatan organisasi yang akan bermanfaat bagi pengembangan budaya politik partisipan.

2.4.4. Peran Serta Budaya Politik Partisipan dalam Pemerintahan Negara

Dalam negara demokrasi, setiap warga negara berhak menyampaikan aspirasinya untuk mendukung atau menolak kebijakan pemerintah. Semua warga negara memiliki hak dan kewajiban sesuai dengan peraturan yang berlaku, termasuk hak dan kewajiban di bidang politik.Generasi muda sebagai generasi penerus bangsa yang kelak akan menggantikan dan mengatur kehidupan politik negara dapat menerapkan budaya politik partisipan melalui pengalaman-pengalaman politik dalam kegiatan-kegiatan politik negara, misalnya menjadi anggota atau simpatisan partai politik, menyaksikan atau mengikuti debat politik antarelite politik melalui berbagai media, mengikuti kampanye pemilihan umum, memberikan suara dalam pemilihan umum untuk pemilihan bupati/walikota, anggota DPRD, DPR RI, dan presiden. Pada saatnya nanti, juga dapat mencalonkan diri sebagai ketua umum partai politik atau calon anggota lembaga legislatif maupun eksekutif. Generasi muda dapat secara kritis dan objektif menilai kebijakan-kebijakan pemerintah dengan memberi masukan, saran atau usul baik melalui tulisan di media massa, melalui lembaga legislatif, maupun melakukan unjuk rasa dalam batas-batas yang telah ditetapkan oleh undang-undang sesuai dengan nilai dan norma budaya masyarakat Indonesia.

2.5 Mahasiswa Sebagai Kelompok Budaya Politik Partisipan Ditengah    Perkembngan Teknologi

Tragedi Trisakti 12 mei 1998 merupakan salah satu aksi demonstrasi yang bertujuan untuk menurunkan jabatan presiden Soeharto berbuntut pertumpahan darah dengan adanya penembakan pada mahasiswa universitas Trisakti. Latar belakang tragedi tersebut adalah memburuknya ekonomi dan sulitnya kebebasan berpendapat di Indonesia pada saat itu. Siapakah yang menjadi aktor dari demonstrasi tersebut?Dari ilustrasi singkat diatas dapat kita ketahui yang menjadi aktor utama adalah mahasiswa kita yang sangat berperan dalam isu-isu besar di Indonesia.Kita sebagai generasi muda khususnya mahasiswa adalah termasuk golongan partisipan. Apa yang dimaksud budaya politik partisipan? Budaya politik partisipan merupakan budaya politik dimana masyarakat memiliki kesadaran bahwa mereka termasuk bagian dalam politik pemerintahan. Hal ini diwujudkan dengan mengeluarkan aspirasi-aspirasi mereka dalam wujud demonstrasi. Jadi mereka tidak hanya tinggal diam apabila terdapat isu-isu yang dianggap mereka merugikan bangsa. Orang-orang seperti merekalah yang dapat menyelamatkan bangsa ini dari keterpurukan seperti korupsi, kasus suap dan lain-lain.

Hampir semua mahasiswa perguruan tinggi negeri Indonesia pernah melakukan aksi tersebut. Entah isu-isu internal kampus atau isu-isu nasional.Isu internal itu sendiri dapat dicontohkan misalnya pada salah satu perguruan tinggi Indonesia menaikkan biaya uang gedung universitas mereka. Pasti mahasiswa yang biasa dimotori oleh BEM(Badan Eksekutif Mahasiswa) akan merespon hal tersebut. Disinilah peran mereka akan terlihat.Setelah lepas dari masa orde baru atau era pak Soeharto mahasiswa seperti kembali mendapatkan haknya untuk mengungkapkan pendapat setelah sekian lama hak tersebut menghilang.

Ada beberapa cara yang dilakukan mahasiswa untuk mengumpulkan masa untuk aksi demonstrasi. Seperti halnya melalui surat pos ataupun bertemu langsung. Pada saat itu orang yang memiliki HP adalah bukan orang biasa. Betapa sulitnya perjuangan mahasiswa untuk mengumpulkan masa, apalagi untuk mengembalikan hak berpendapat rakyat Indonesia yang sempat hilang pada orde baru.Pada era globalisasi saat ini dimana teknologi terus berlari dan sulit dihentikan perkembangannya, mungkin beberapa cara diatas sudah tidak dapat mendukung. Facebook, twitter dan jejaring sosial lainnya dapat menjadi solusi terbaik. Hal itu dikarenakan sekarang setiap kampus sudah memiliki akses internet yang memadai dimana setiap universitas sudah memiliki koneksi internet yang memadai.

 

 

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

.    Budaya politik adalah aspek politik dari nilai-nilai yang terdiri atas pengetahuan, adat istiadat, tahayul, dan mitos. Kesemuanya dikenal dan diakui oleh sebagian besar masyarakat. Budaya politik tersebut memberikan rasional untuk menolak atau menerima nilai-nilai dan norma lain. Budaya politik dapat dilihat dari aspek doktrin dan aspek generiknya. Yang pertama menekankan pada isi atau materi, seperti sosialisme, demokrasi, atau nasionalisme. Yang kedua (aspek generik) menganalisis bentuk, peranan, dan ciri-ciri budaya politik, seperti militan, utopis, terbuka, atau tertutup.Budaya politik partisipan adalah individu yang berorientasi terhadap struktur input dan proses dan terlibat didalamnya atau melihat dirinya sebagai potensial terlibat, mengartikulasikan tuntutan dan membuat keputusan.Budaya partisipan yaitu budaya dimana masyarakat sangat aktif dalam kehidupan politik, dan masyarakat yang bersangkutan sudah relatif maju baik sosial maupun ekonomi, tetapi masihbersifat pasif

.            Peran serta mahasiswa dalam budaya politik partisipan, tidak dapat muncul secara instan tetapi melalui proses yang panjang melalui sosialisasi sejak kanak-kanak, sampai dewasa bahkan sampai tua di lingkungan masyarakat, bangsa, dan negara. Dalam lingkungan keluarga,Peran serta mahasiswa dalam budaya politik partisipan dapat dilakukan dengan memahami dan menghormati kedudukan semua anggota keluarga. Misalnya, menghormati peran ayah sebagai kepala keluarga sesuai dengan kedudukan, kewenangan, fungsi dan tanggung jawabnya. Dalam Lingkungan kampus, dapat diwujudkan dengan partisipasi dalam kegiatan Organisasi Badan Eksekutif Mahasiswa. Mahasiswa dapat memberikan masukan, usul, saran atau kritik yang membangun untuk kemajuan kegiatan BEM dalam rangka penyusunan dan pelaksanaan program-program BEM di kampus masing-masing. Dalam lingkungan masyarakat, Mahasiswa atau generasi muda dapat ikut aktif dalam kegiatan karang taruna, remaja masjid, organisasi pemuda, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), dan organisasi kemasyarakatan yang lain. Dalam lingkungan pemerintahan Negara, dapat menerapkan budaya politik partisipan melalui pengalaman-pengalaman politik dalam kegiatan-kegiatan politik negara, misalnya menjadi anggota atau simpatisan partai politik, menyaksikan atau mengikuti debat politik antar elite politik melalui berbagai media, mengikuti kampanye pemilihan umum, memberikan suara dalam pemilihan umum untuk pemilihan bupati/walikota, anggota DPRD, DPR RI, dan presiden

 

3.2 Saran

Dalam berpolitik sebaikya dilakukan menurut kaidah-kaidah dan aturan-aturan yang sesuai agar tercipta integrasi nasional. Karena bangsa Indonesia terdiri dari berbagai macam suku, ras, agama, dan budaya, menyebabkan mudah terjadi selisih paham dalam berpolitik. Oleh karena itu peran mahasiswa sangat diharapkan demi terwujudnya budaya politik yang partisipan.

Mahasiswa tidak boleh apatis, mahasiswa harus aktif mengikuti perkembangan politik bangsa ini dan ikut memberikan penerangan atau sosialisasi kepada masyarakat mengenai cara berpolitik yang baik dan benar.

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

http://politik.kompasiana.com/2011/08/16/pentingnya-peran-mahasiswa-dalam-mewujudkan-perubahan-bangsa/

http://studibudaya.wordpress.com/2011/04/01/kekerasan-dan-budaya-kekerasan/

 

http://www.suarapembaruan.com/home/budaya-kekerasan-dipelihara-dan-dibiarkan-secara-turun-temurun/11537

http://pti.sebelas.net/2011/05/12/mahasiswa-sebagai-kelompok-partisipan-ditengah-perkembangan-teknologi/

 

 

PERANAN INVESTASI DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI DI INDONESIA

 

 

 

Oleh:

I ketut Ardana Yasa ( 11.33.121.045 )

 

 

 

 

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS WARMADEWA TAHUN

AJARAN 2011/2012

 

 

 

 

 

 

KATA PENGANTAR

 

          Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahkmatnyalah penulis biasa menyelesaikan karya tulis berupa makalah yang berjudul “Peranan Investasi dalam Pembangunan Ekonomi di Indonesia”. Adapun yang akan diuraikan dalam makalah ini adalah pengaruh investasi terhadap perekonomian , perkembangan investasi di Indonesia dan ketentuan hukum yang mengatur investasi di Indonesia.

          Adapun tujuan dari penulisan karya tiulis ini adalah untuk memberikan informasi mengenai peranan investasi dalam menunjang pembangunan ekonomi suatu Negara untuk mencapai pertumbhan ekonomi yang maksimal serta memberikan gambaran sejauh mana perkembangan investasi di Indonesia serta ketentuan-ketentuan hukum yang terkait didalamnya.

          Untuk memperoleh informasi yang penulis butuhkan, penulis melakukan pencarian di internet dan membaca buku-buku mengenai investasi dan pembangunan ekonomi.penulis menyadari bahwa apa yang telah dipaparkan dalam karya tulis ini masih jauh dari sempurna baik menyangkut isi,teknis, maupun bahasa. Untuk itu segala kritik yang sifatnya membangun sangat penuls harapkan demi kelengkapan karya tulis ini.

          Demikianlah yang dapat penulis sampaikan, penulis berharap karya tulis ini bias memberikan tambahan pengetahuan mengenai arti penting investasi dalam menunjang pembangunan perekonomian di Indonesia.

 

 

 

                                                                                               Denpasar, April 2012

 

                                                                                                      Penulis,

 

 

ABSTARKSI

          Investasi adalah penanaman modal untuk satu atau lebih aktiva yang dimiliki dan biasanya berjangka waktu lama dengan harapan mendapatkan keuntungan di masa-masa yang akan datang.”  Berdasarkan teori ekonomi, investasi berarti pembelian (dan produksi) dari modal barang yang tidak dikonsumsi tetapi digunakan untuk produksi yang akan datang (barang produksi). Menurut Senduk (2004:24) bahwa produk-produk investasi yang tersedia di pasaran antara lain Tabungan, Deposito, Reksadana, Obligasi, saham, emas dan property.

         Pertumbuhan ekonomi pada zaman sekarang ini berdampak pada kehidupan penduduk suatu negara. Semuanya ini berpengaruh pada kesejahteran rakyat banyak. Penguatan peran dan kelembagaan pemerintah sangat penting untuk mendukung keberhasilan kebijakan investasi.Ada beberapa anggapan mengenai manfaat investasi asing terhadap pertumbuhan ekonomi nasional yaitu sebagai berikut:

1.      investasi asing akan menciptakan perusahaan-perusahaan baru, memperluas  pasar atau merangsang penelitian dan pengembangan teknologi lokal yang baru.

2.      investasi asing akan meningkatkan daya saing industri ekspor, dan merangsang ekonomi lokal melalui pasar kedua (sektor keuangan) dan ketiga (sektor jasa/pelayanan).

3.      investasi asing akan meningkatkan pajak pendapatan dan menambah pendapatan lokal/nasional, serta memperkuat nilai mata uang lokal untuk pembiayaan impor.

4.      pembayaran utang adalah esensial untuk melindungi keberadaan barang-barang finansial di pasar internasional dan mengelola integritas sistem keuangan. Kedua hal ini, sangat krusial uuntuk kelangsungan pembangunan.

5.      sebagian besar negara-negara Dunia Ketia tergantung pada investasi asing untuk menyediakan kebutuhan modal  bagi pembangunan karena sumberdaya-sumberdaya lokal tidak tersedia atau tidak mencukupi.

6.      para penganjur investasi asing berargumen bahwa sekali investasi asing masuk, maka hal itu akan menjadi batu alas bagi masuknya investasi lebih banyak lagi, yang selanjutnya menjadi tiang yang kokoh bagi pembangunan ekonomi keseluruhan.

 

           perkembangan investasi di Indonesia menunjukkan keadaan yang menggembirakan. Pada tahun 2007, total investasi di Indonesia mencapai Rp 983,9 trilyun (atas dasar harga berlaku). Angka ini hampir tujuh belas kali lipat dibandingkan investasi pada tahun 1990 yang sebesar Rp 58,9 trilyun.Investasi tersebut dilakukan baik oleh pemerintah maupun masyarakat/swasta. Meskipun demikian, peranan investasi pemerintah relatif kecil. Dari total investasi pada tahun 2007, hanya 12,75 persen (Rp 125,4 trilyun) yang merupakan investasi pemerintah, sedangkan sebagian besar lainnya (87,25 persen atau Rp 858,5 trilyun) merupakan investasi masyarakat.

          Pengaturan tentang kegiatan penanaman modal di Indonesia diatur dalamUU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal. Dalam Pasal 3 ayat (1)huruf a, disebutkan bahwa kegiatan penanaman modal diselenggarakanberdasarkan asas kepastian hukum. Sementara itu yang dimaksud dengan“asas kepastian hukum” adalah asas dalam negara hukum yang meletakkanhukum dan ketentuan peraturan perundang-undangan sebagai dasar dalamsetiap kebijakan dan tindakan dalam bidang penanaman modal.2 Dalamkonteks ini yang dimaksud dengan kepastian hukum adalah adanyakonsistensi peraturan dan penegakan hukum di Indonesia. Konsistensi peraturan ditunjukkan dengan adanya peraturan yang tidak salingbertentangan antara satu peraturan dengan peraturan yang lain, dan dapatdijadikan pedoman untuk suatu jangka waktu yang cukup, sehingga tidak terkesan setiap pergantian pejabat selalu diikuti pergantian peraturan yang bisa saling bertentangan.

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

HALAMAN JUDUL…………………………………………………….. i

KATA PENGANTAR…………………………………………………… ii

ABSTRAKSI………………………………………………………………. iii

DAFTAR ISI……………………………………………………………….. v

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang………………………………………………………………………… 1

1.2 Rumusan Masalah……………………………………………………………………. 2

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Investasi………………………………………………………………… 3

2.2 Jenis – Jenis Investasi……………………………………………………………… 3

2.3 Pengaruh Investasi Dalam Perekonomian Indonesia……………………. 6

2.4 Investasi Di Indonesia…………………………………………………………….. 8

2.5 Ketentuan Hukum Investasi Di Ndonesia………………………………….. 11

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan…………………………………………………………………………………. 14

3.2 Saran………………………………………………………………………………………….. 15

 

DAFTAR PUSTAKA

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1             Latar belakang

 

       Salah satu teori ekonomi pembangunan yang sampai sekarang masih digunakan adalah teori Tabungan dan Investasi oleh Harrod-Domar. Dalam teori ini mencapai kesimpulan bahwa pertumbuhan ekonomi ditentukan oleh tingginya tabungan dan investasi. Kalau tabungan dan investasi rendah maka pertumbuhan ekonomi suatu Negara juga akan rendah. Masalah pembangunan pada dasarnya merupakan masalah menambahkan investasi modal, masalah keterbelakangan adalah masalah kekurangan modal. Kalau ada modal dan modal itu diinvestasikan hasilnya adalah pembangunan ekonomi.Dewasa ini hampir di semua negara, khususnya negara berkembang membutuhkan modal asing. Modal asing itu merupakan suatu hal yang semakin penting bagi pembangunan suatu negara. Sehingga kehadiran investor asing nampaknya tidak mungkin dihindari. Yang menjadi permasalahan bahwa kehadiran investor asing ini sangat dipengaruhi oleh kondisi internal suatu negara, seperti stabilitas ekonomi, politik negara, penegakan hukum. Penanaman modal memberikan keuntungan kepada semua pihak, tidak hanya bagi investor saja, tetapi juga bagi perekonomian negara tempat modal itu ditanamkan serta bagi negara asal para investor. Pemerintah menetapkan bidang-bidang usaha yang memerlukan penanaman modal dengan berbagai peraturan. Selain itu, pemerintah juga menentukan besarnya modal dan perbandingan antara modal nasional dan modal asing.

         Dewasa ini banyak negara-negara yang melakukan kebijaksanaan yang bertujuan untuk meningkatkan investasi baik domestik ataupun modal asing. Hal ini dilakukan oleh pemerintah sebab kegiatan investasi akan mendorong pula kegiatan ekonomi suatu negara, penyerapan tenaga kerja, peningkatan output yang dihasilkan, penghematan devisa atau bahkan penambahan devisa.  Menurut Husnan (1996:5) menyatakan bahwa “proyek investasi merupakan suatu rencana untuk menginvestasikan sumber-sumber daya, baik proyek raksasa ataupun proyek kecil untuk memperoleh manfaat pada masa yang akan datang.” Pada umumnya manfaat ini dalam bentuk nilai uang. Sedang modal, bisa saja berbentuk bukan uang, misalnya tanah, mesin, bangunan dan lain-lain.Namun baik sisi pengeluaran investasi ataupun manfaat yang diperoleh, semua harus dikonversikan dalam nilai uang. Suatu rencana investasi perlu dianalisis secara seksama. Analisis rencana investasi pada dasarmya merupakan penelitian tentang dapat tidaknya suatu proyek (baik besar atau kecil) dapat dilaksanakan dengan berhasil, atau suatu metode penjajakkan dari suatu gagasan usaha/bisnis tentang kemungkinan layak atau tidaknya gagasan usaha/bisnis tersebut dilaksanakan.Suatu proyek investasi umumnya memerlukan dana yang besar dan akan mempengaruhi perusahaan dalam jangka panjang. Oleh karena itu dilakukan perencanaan investasi yang lebih teliti agar tidak terlanjur menanamkan investasi pada proyek yang tidak menguntungkan

 

1.2             Rumusan masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah disebutkan diatas maka dapat dirumuskan   masalahnya sebagai berikut:

1.2.1              Apa pengaruh investasi dalam perekonomian?

1.2.2              Bagaimana perkembangan investasi di Indonesia?

1.2.3              Bagaimana ketentuan hukum investasi di Indonesia?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1 Pengertian Investasi

     
          Menurut Sunariyah (2003:4): “Investasi adalah penanaman modal untuk satu atau lebih aktiva yang dimiliki dan biasanya berjangka waktu lama dengan harapan mendapatkan keuntungan di masa-masa yang akan datang.”  Berdasarkan teori ekonomi, investasi berarti pembelian (dan produksi) dari modal barang yang tidak dikonsumsi tetapi digunakan untuk produksi yang akan datang (barang produksi). Contohnya membangun rel kereta api atau pabrik. Investasi adalah suatu komponen dari PDB dengan rumus PDB = C + I + G + (X-M). Fungsi investasi pada aspek tersebut dibagi pada investasi non-residential (seperti pabrik dan mesin) dan investasi residential (rumah baru). Investasi adalah suatu fungsi pendapatan dan tingkat bunga, dilihat dengan kaitannya I= (Y,i). Suatu pertambahan pada pendapatan akan mendorong investasi yang lebih besar, dimana tingkat bunga yang lebih tinggi akan menurunkan minat untuk investasi sebagaimana hal tersebut akan lebih mahal dibandingkan dengan meminjam uang. Walaupun jika suatu perusahaan lain memilih untuk menggunakan dananya sendiri untuk investasi, tingkat bunga menunjukkan suatu biaya kesempatan dari investasi dana tersebut daripada meminjamkan untuk mendapatkan bunga.

 

2.2 Jenis – Jenis Investasi


Menurut Senduk (2004:24) bahwa produk-produk investasi yang tersedia di pasaran antara lain:

1. Tabungan

Tabungan disini dalam artian menyimpan uang di Bank. Bank akan menyimpan uang kita dalam periode tertentu sesuai keinginan kita. Kita bebas mengambilnya kapan saja baik itu secara langsung di teller atau melalui transaksi elektronis. Nilai dalam tabungan kita bisa cepat habis karena sering diambil untuk keperluan Tabungan merupakan investasi paling mudah, paling tidak beresiko, namun memiliki keuntungan yang sangat sedikit. Ada resiko, ada profit. Jika resiko kecil, profit juga kecil. Mungkin malah berkurang karena kita mendapatkan segudang fasilitas dari Bank yang memudahkan kita dalam mengatur uang sendiri. Biasanya bunga bank itu sekitar 1% setahun (CMIIW)

2. Deposito

Deposito adalah menyimpan uang di Bank dalam periode tertentu. Uang yang sudah disimpan dalam bentuk deposito hanya bisa diambil jika sudah jatuh tempo. Jika belum jatuh tempo diambil, maka akan ada penalti atas kesepakatan yang sudah dilakukan.  Investasi jenis ini juga memiliki profit rendah karena resikonya kecil. Kita tidak perlu action apapun kecuali setor uang diawal saja. Investasi ini memiliki profit lebih besar daripada tabungan karena kita diikat oleh periode tertentu. Bunga deposito saat ini sekitar 5% per tahun. Investasi jenis ini biasanya membutuhkan uang yang tidak besar. Biasanya ada range untuk deposito sekian juta nanti masuk kategori mana.

3. Reksadana

Reksadana adalah tempat menghimpun dana secara kolektif. Dana yang terkumpul akan dikelola oleh Manajer Investasi yang akan diinvestasikan pada jenis investasi lainnya. Bila mendapat keuntungan atau kerugian akan dibagi secara rata untuk para investor. Ini dapat menjadi pilihan bagi Anda yang baru memulai untuk berinvestasi. Jenis risikonya berbeda, tergantung jenis risiko yang dipilih. Jenisnya adalah reksadana pasar uang, reksadana pendapatan tetap, reksadana saham, dan reksadana campuran.

Reksadana ini bisa dikatakan jembatan atau latihan untuk melakukan investasi yang riil karena kita bisa melihat apa saja investasi yang baik. Si manager investasi pasti mengumumkan mereka investasi apa aja, dimana saja, dan berapa profitnya. Dari situ nanti kita bisa terbuka pemikirannya untuk melakukan investasi sendiri. Tentu dengan perhitungan yang matang. Namun kerugian dari reksadana sendiri adalah kita bisa saja kurang puas dengan pencapaian yang didapat oleh manager investasi. Keuntungan tergantung dari hasil investasinya dan tentu saja ada biaya yang harus diberikan untuk pengelolanya.

4. Obligasi

Obligasi adalah surat hutang, merupakan bukti bahwa kita memberikan hutang kepada perusahaan tertentu atau pemerintah. Pihak yang berhutang akan memberi bunga untuk jangka waktu tertentu. Jangka waktu pengembalian hutang lebih dari satu tahun. Obligasi yang paling aman adalah obligasi atau surat utang dari negara.

Obligasi memiliki keuntungan yang lebih besar secara profit. Biasanya lebih besar daripada deposito. Namun jangka waktu pelunasan obligasi lebih dari 1 tahun. Hal ini akan membuat kita kurang liquid. Jika ingin mendapatkan uang kita harus menunggu tanggal jatuh tempo. Selain itu, jika perusahaannya bangkrut, uang kita pastinya tidak akan kembali. Inilah resiko investasi. Semakin besar investasi, semakin besar profitnya. Saat ini, bunga obligasi rata2 6-9%.

5. Saham

Saham merupakan tawaran perusahaan kepada kita untuk menginvestasikan uang kita kepada mereka. Dengan itu, kita bisa memiliki bagian dari perusahaan tersebut sesuai dengan porsinya. Uang yang diberikan akan digunaakan sebagai modal perusahaan tersebut mengembangkan usahanya. Orang yang membeli saham tersebut akan mendapatkan profit yang disebut deviden. Saham ini bersifat fluktuatif tergantung pasar saham. Biasanya  kalau perusahaannya sehat dan memiliki pergerakan positif, maka nilai saham akan naik, begitu juga sebaliknya. Jika kita optimis nilai saham dari perusahaan tertentu itu baik maka segeralah membeli sahamnya. Jual beli saham dilakukan di perusahaan sekuritas.Profitnya tidak bisa ditentukan karena tergantung dari performa perusahaan tersebut. Bisa untuk berlipat-lipat, bisa juga rugi babak belur. Ingat, semakin tinggi resiko, semakin besar profit.

6. Emas

Saat ini, emas mulai populer dalam melakukan investasi kecil maupun besar. Kenapa emas populer? Karena nilai emas selalu naik setiap tahunnya. Kebutuhan orang akan emas semakin besar dan tidak diimbangi dengan produksi yang meningkat. Selain itu emas sangatlah liquid, artinya bisa diuangkan kapan saja, tinggal ke toko emas atau di gadai. Harga emas saat ini berkisar di antar 422.000 per gram. Emas ini bervariasi, ada emas berbentuk batangan, coin, atau perhiasan. Biasanya emas batangan dan coin adalah emas murni yaitu emas dengan kadar 24 karat, dengan kemurnian 99.999%. Jika emas perhiasan tergantung campuran dan modelnya. Biasanya lebih murah daripada emas murni dengan berat yang sama.

Berat emas bervariasi mulai dari 1 gr, 5gr, 10 gr, dsb. Ada juga  yang 1kg. Karena harga emas semakin lama semakin naik, maka segeralah beli emas saat ini juga. Jika ingin berinvestasi yang mudah dan mudah dicairkan. Resiko dari investasi emas ini adalah resiko dicuri orang. Emas merupakan benda berujud dan tidak ada tanda bukti kepemilikan (hanya sertifikat emas saja). Jadi jika dicuri orang, maka orang tersebut dengan mudah menjualnya ditoko emas. Jika ingin mengunci resiko (tidak ingin beresiko dicuri orang) maka simpanlah ditempat aman atau disimpan di bank (gadai). Tentu saja ada biaya yang harus dikeluarkan.  Kenaikan emas tiap tahun berkisar 30%

7. Properti

Properti disini bisa dikatakan tanah, rumah, ruko, dsb. Setiap lahan yang menjadi hak milik kita adalah properti entah lahan itu sudah didirikan suatu bangun atau belum. Sifat properti juga mirip emas yaitu semakin lama semakin naik harganya. Namun perbedaannya adalah properti tidak se-liquid emas. Properti tidak bisa cepat dijual dengan harga sesuai keinginan. Bila akan membeli rumah di perumahan yang belum atau masih dibangun, pastikan pengembang dapat dipercaya dan adanya perjanjian yang jelas, karena ada beberapa kasus, setelah kita membayar, pembangunan rumah tidak dilanjutkan yang mengakibatkan kerugian. Kesulitan investasi di bidang properti adalah biaya yang dikeluar sangat besar.

 

2.3  Pengaruh Investasi Dalam Prekonomian Indonesia

          Pemerintah menargetkan 10,7 juta lapangan kerja baru, serta menurunkan tingkat kemiskinan menjadi sekitar 8-10% pada akhir tahun 2014. target itu bisa tercapai asalkan setiap tahunnya perekonomian meningkat 30% lebih tinggi dari pada tahun sebelumnya. Untuk mendorongnya, pemerintah harus fokus pada tiga hal, yaitu ekspor, investasi pemerintah dan publik, serta konsumsi. Di samping itu, investasi yang dikembangkan pun harus lebih memihak pada penciptaan lapangan kerja.
Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi pada tahun 2011 sebesar 6,3-6,4% pemerintah menargetkan pertumbuhan laju investasi sebesar 10% pada tahun 2011. Angka ini lebih tinggi bila dibandingkan dengan perkiraan realisasinya pada tahun 2010 yang sebesar 8%. Membaiknya likuiditas keuangan global akan semakin mendorong masuknya aliran modal dari luar negeri sehingga menggerakkan kinerja investasi domestik dan daya saing perekonomian nasional. Kebutuhan investasi nominal tahun 2011 diperkirakan mencapai Rp2.243,8 triliun. Kebutuhan investasi tersebut akan bersumber dari PMA dan PMDN sebesar 26,8%, kredit perbankan 17,4%, pasar modal 16,7%, belanja modal pemerintah 12,4%, dan sumber-sumber investasi lainnya.

          Melihat kondisi Indonesia setidaknya ada lima alasan mendasar mengapa Indonesia membutuhkan investasi asing saat ini:

a. Penyediaan lapangan kerja

b.Mengembangkan industri subsitusi impor untuk menghemat devisa Kehadiran penanaman modal asing dapat dipergunakan untuk membantu mengembangkan industri subsitusi impor dalam rangka menghemat devisa.

c. Mendorong berkembangnya industri barang-barang ekspor non-migas untuk mendapatkan devisa.

d. Pembangunan daerah-daerah tertinggal. Investasi asing diharapkan sebagai salah satu sumber pembiayaan dalam pembangunan yang dapat digunakan untuk membangunInfrastruktur seperti pelabuhan, listrik, air bersih, jalan, rel kereta api,

       dan lain-lain.

e. Alih teknologi. Salah satu tujuan mengundang modal asing adalah untuk    mewujudkan alih teknologi.

          Ada beberapa anggapan mengenai manfaat investasi asing terhadap pertumbuhan ekonomi nasional yaitu sebagai berikut:

1.      investasi asing akan menciptakan perusahaan-perusahaan baru, memperluas  pasar atau merangsang penelitian dan pengembangan teknologi lokal yang baru.

2.      investasi asing akan meningkatkan daya saing industri ekspor, dan merangsang ekonomi lokal melalui pasar kedua (sektor keuangan) dan ketiga (sektor jasa/pelayanan).

3.      investasi asing akan meningkatkan pajak pendapatan dan menambah pendapatan lokal/nasional, serta memperkuat nilai mata uang lokal untuk pembiayaan impor.

4.      pembayaran utang adalah esensial untuk melindungi keberadaan barang-barang finansial di pasar internasional dan mengelola integritas sistem keuangan. Kedua hal ini, sangat krusial uuntuk kelangsungan pembangunan.

5.      sebagian besar negara-negara Dunia Ketia tergantung pada investasi asing untuk menyediakan kebutuhan modal  bagi pembangunan karena sumberdaya-sumberdaya lokal tidak tersedia atau tidak mencukupi.

6.      para penganjur investasi asing berargumen bahwa sekali investasi asing masuk, maka hal itu akan menjadi batu alas bagi masuknya investasi lebih banyak lagi, yang selanjutnya menjadi tiang yang kokoh bagi pembangunan ekonomi keseluruhan.

2.4  Investasi di Indonesia

           Investasi merupakan langkah awal kegiatan produksi. Dengan posisi tersebut, investasi pada hakekatnya juga merupakan langkah awal kegiatan pembangunan ekonomi. Dinamika penanaman modal mempengaruhi tinggi rendahnya pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. Oleh karenanya, dalam upaya menumbuhkan perekonomian, setiap negara senantiasa berusaha menciptakan iklim yang dapat menggairahkan investasi.
Sebagai penyangga pertumbuhan ekonomi, perkembangan investasi di Indonesia menunjukkan keadaan yang menggembirakan. Pada tahun 2007, total investasi di Indonesia mencapai Rp 983,9 trilyun (atas dasar harga berlaku). Angka ini hampir tujuh belas kali lipat dibandingkan investasi pada tahun 1990 yang sebesar Rp 58,9 trilyun.
Investasi tersebut dilakukan baik oleh pemerintah maupun masyarakat/swasta. Meskipun demikian, peranan investasi pemerintah relatif kecil. Dari total investasi pada tahun 2007, hanya 12,75 persen (Rp 125,4 trilyun) yang merupakan investasi pemerintah, sedangkan sebagian besar lainnya (87,25 persen atau Rp 858,5 trilyun) merupakan investasi masyarakat. Selain itu, jika dilihat selama periode 1990 – 2007, perkembangan investasi pemerintah juga relatif lebih lambat dibandingkan investasi masyarakat. Total investasi masyarakat pada tahun 2007 hampir dua puluh dua kali lipat dibandingkan investasi masyarakat pada tahun 1990, sedangkan investasi pemerintah tahun 2007 hanya sekitar enam kali lipat dibandingkan keadaan tahun 1990.
Gambaran terperinci mengenai perkembangan investasi di Indonesia selama periode 1990 – 2007, baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun masyarakat diberikan pada tabel berikut:
Tabel : Perkembangan Investasi di Indonesia Selama Periode 1990 – 2007

 

Keterangan: Volatilitas merupakan standar deviasi dari pertumbuhan. KV Volatilitas=koefisien variasi volatilitas yang dihitung dari volatilitas dibagi rata-rata pertumbuhan (nilai absolut).
Sumber: Dirangkum dan diolah dari Buku Repelita VI, Rencana Kerja Pemerintah (RKP) berbagai tahun, Laporan Perekonomian Indonesia (Bank Indonesia) berbagai tahun

          Tabel diatas juga menunjukkan bahwa perkembangan investasi baik investasi pemerintah maupun masyarakat relatif berlanjut, meskipun pada tahun 1997, Indonesia sebagaimana negara-negara Asia lainnya mengalami krisis ekonomi yang cukup parah. Hal ini terlihat dari rata-rata investasi yang tetap lebih tinggi pada periode setelah krisis (1998 – 2007) dibandingkan periode sebelum krisis (1990 – 1997).
Namun demikian, jika dilihat lebih jauh, rata-rata investasi yang lebih tinggi ini ternyata juga diikuti oleh koefisien variasi volatilitas (volatilitas yang sudah disesuaikan terhadap nilai rata-rata pertumbuhan) yang lebih tinggi. Ini menunjukkan bahwa perkembangan investasi di Indonesia pada periode setelah krisis lebih berfluktuasi dibandingkan periode sebelum krisis. Fakta lebih tingginya fluktuasi investasi ini terutama terlihat pada investasi masyarakat. Investasi pemerintah memang menunjukkan kondisi penurunan volatilitas pada periode setelah krisis. Namun, karena proporsi investasi pemerintah terhadap investasi total relatif kecil, kondisi ini hampir tidak mempengaruh volatilitas investasi secara keseluruhan.
Selanjutnya, jika dibandingkan investasi terhadap PDB Indonesia, dapat dikemukakan bahwa selama periode 1990-2007, rata-rata persentase investasi terhadap PDB adalah 25,7 persen, dengan persentase investasi pemerintah terhadap PDB sebesar 5,6 persen dan investasi masyarakat terhadap PDB sebesar 20,1 persen. Membandingkan kondisi sebelum dan sesudah krisis menunjukkan bahwa telah terjadi penurunan rata-rata persentase investasi terhadap PDB baik pada investasi pemerintah maupun masyarakat. Secara total, persentase investasi terhadap PDB menurun dari 29,6 persen pada periode sebelum krisis menjadi 22,6 persen pada periode setelah krisis. Investasi pemerintah turun dari 7,9 persen menjadi 3,8 persen, sedangkan investasi masyarakat turun dari 21,8 persen menjadi 18,8 persen.
Selain penurunan persentase investasi terhadap PDB, fluktuasi setelah krisis juga menunjukkan peningkatan, yang terlihat dari peningkatan nilai koefisien variasi volatilitas. Bahkan dalam kasus investasi pemerintah, meskipun secara nilai menunjukkan penurunan volatilitas, tetapi sebagai persentase dari PDB, terjadi peningkatan dalam nilai volatilitasnya.
Gambaran secara rinci mengenai perkembangan investasi sebagai persentase dari PDB di Indonesia selama periode 1990 – 2007 diberikan pada gambar berikut:
Gambar: Perkembangan Investasi di Indonesia selama Periode 1990 – 2007 (dalam persen terhadap PDB)

 

2.5 ketentuan hukum Investasi di Indonesia

 

                Pengaturan tentang kegiatan penanaman modal di Indonesia diatur dalamUU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal. Dalam Pasal 3 ayat (1)huruf a, disebutkan bahwa kegiatan penanaman modal diselenggarakanberdasarkan asas kepastian hukum. Sementara itu yang dimaksud dengan“asas kepastian hukum” adalah asas dalam negara hukum yang meletakkanhukum dan ketentuan peraturan perundang-undangan sebagai dasar dalamsetiap kebijakan dan tindakan dalam bidang penanaman modal.2 Dalamkonteks ini yang dimaksud dengan kepastian hukum adalah adanyakonsistensi peraturan dan penegakan hukum di Indonesia. Konsistensi peraturan ditunjukkan dengan adanya peraturan yang tidak salingbertentangan antara satu peraturan dengan peraturan yang lain, dan dapatdijadikan pedoman untuk suatu jangka waktu yang cukup, sehingga tidak terkesan setiap pergantian pejabat selalu diikuti pergantian peraturan yangbisa saling bertentangan.

  1. Penjelasan Pasal 12 ayat (1) menyebutkan, bahwa bidang usaha atau jenis usaha

yang tertutup dan yang terbuka dengan persyaratan ditetapkan melalui Peraturan

Presiden disusun dalam suatu daftar yang berdasarkan standar klasifikasi tentang bidang usaha atau jenis usaha yang berlaku di Indonesia, yaitu Klasifikasi Baku Lapangan

Usaha Indonesia (KBLI)

.

  1. Pasal 12 ayat (2) menetapkan, bahwa bidang usaha yang tertutup bagi penanam

modal asing adalah:

a. produksi senjata, mesiu, alat peledak, dan peralatan perang; dan

b. bidang usaha yang secara eksplisit dinyatakan tertutup berdasarkan undang-undang.

Dalam penjelasannya yang dimaksud dengan “alat peledak” adalah alat yang

digunakan untuk kepentingan pertahanan dan keamanan.

 

  1. Ayat (3) pasal ini menyatakan, bahwa Pemerintah berdasarkan Peraturan Presiden

menetapkan bidang usaha yang tertutup untuk penanaman modal, baik asing maupun

dalam negeri, dengan berdasarkan kriteria kesehatan, moral, kebudayaan, lingkungan

hidup, pertahanan dan keamanan nasional, serta kepentingan nasional lainnya.

 

  1. Selanjutnya ayat (4) menjelaskan Kriteria dan persyaratan bidang usaha yang tertutup

dan yang terbuka dengan persyaratan serta daftar bidang usaha yang tertutup dan yang

terbuka dengan persyaratan masing-masing akan diatur dengan Peraturan Presiden.

 

  1. Pasal 12 ayat (5) menyatakan Pemerintah menetapkan bidang usaha yang terbuka

dengan persyaratan berdasarkan kriteria kepentingan nasional, yaitu perlindungan

sumber daya alam, perlindungan, pengembangan usaha mikro, kecil, menengah, dan koperasi, pengawasan produksi dan distribusi, peningkatan kapasitas teknologi,

partisipasi modal dalam negeri, serta kerja sama dengan badan usaha yang ditunjuk

Pemerintah.Sebagai pelaksanaan ketentuan-ketentuan tersebut di atas Pemerintah telahmengeluarkan, Peraturan Presiden. Pertama, Peraturan Presiden No. 76 Tahun 2007tentang Kriteria dan Persyaratan Penyusunan Bidang Usaha Yang Tertutup dan BidangUsaha Yang Terbuka Dengan Persyaratan Di Bidang Penanaman Modal. Kedua,Peraturan Presiden No. 77 Tahun 2007 Tentang Daftar Bidang Usaha Yang Tertutupdan Bidang Usaha Yang Terbuka dengan Persyaratan Di Bidang Penanaman Modal jo.Peraturan Presiden No. 111 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden No.77 Tahun 2007 Tentang Daftar Bidang Usaha Yang Tertutup dan Bidang Usaha Yangerbuka dengan Persyaratan Di Bidang Penanaman Modal

 

 

Pasal 13 ayat (1) menyatakan Pemerintah wajib menetapkan bidang usaha yang

dicadangkan untuk usaha mikro, kecil, menengah, dan koperasi serta bidang usaha yang

terbuka untuk usaha besar dengan syarat harus bekerja sama dengan usaha mikro, kecil,

menengah, dan koperasi

 

Pasal 14 menyebutkan setiap penanam modal berhak mendapat:

a. kepastian hak, hukum, dan perlindungan;

b. informasi yang terbuka mengenai bidang usaha yang dijalankannya;

c. hak pelayanan; dan

d. berbagai bentuk fasilitas kemudahan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan

Pasal 15 menetapkan setiap penanam modal berkewajiban:

a. menerapkan prinsip tata kelola perusahaan yang baik;

b. melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan;

c. membuat laporan tentang kegiatan penanaman modal dan menyampaikannya kepada

Badan Koordinasi Penanaman Modal;

d. menghormati tradisi budaya masyarakat sekitar lokasi kegiatan usaha penanaman

modal; dan

e. mematuhi semua ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 16 undang-undang ini mengatur tentang tanggung jawab penanam modal,

dimana setiap penanam modal bertanggung jawab :

a. menjamin tersedianya modal yang berasal dari sumber yang tidak bertentangan

dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;

b. menanggung dan menyelesaikan segala kewajiban dan kerugian jika penanam modal

menghentikan atau meninggalkan atau menelantarkan kegiatan usahanya secara

sepihak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;

c. menciptakan iklim usaha persaingan yang sehat, mencegah praktik monopoli, dan hal

lain yang merugikan negara;

d. menjaga kelestarian lingkungan hidup;

e. menciptakan keselamatan, kesehatan, kenyamanan, dan kesejahteraan pekerja; dan

f. mematuhi semua ketentuan peraturan perundang-undangan.

 

 

BAB III

PENUTUP

 

3.1Kesimpulan
          Pertumbuhan ekonomi pada zaman sekarang ini berdampak pada kehidupan penduduk suatu negara. Semuanya ini berpengaruh pada kesejahteran rakyat banyak. Penguatan peran dan kelembagaan pemerintah sangat penting untuk mendukung keberhasilan kebijakan investasi. Daya tarik investasi bisa dilakukan dengan berbagai cara antara lain meningkatkan pelayanan perijinan, meningkatkan kepastian hukum,meningkatkan diversifikasi pasar dan mendorong komoditi lokal yang bernilai tambah tinggi. Investasi didorong dengan meningkatkan akses UKM pada sumberdaya produktivitas. Tanpa lembaga dan kapasitas yang siap maka kebijakan tidak bisa terealisasi secara maksimal. Tujuan dan prospek yang ingin dicapai sulit untuk dicapai dan kemungkinannya malah akan hilang. Pemerintah perlu menata kembali fungsi organisasi dan manajemen yang ada saat ini.

          perkembangan investasi di Indonesia menunjukkan keadaan yang menggembirakan. Pada tahun 2007, total investasi di Indonesia mencapai Rp 983,9 trilyun (atas dasar harga berlaku). Angka ini hampir tujuh belas kali lipat dibandingkan investasi pada tahun 1990 yang sebesar Rp 58,9 trilyun.Investasi tersebut dilakukan baik oleh pemerintah maupun masyarakat/swasta. Meskipun demikian, peranan investasi pemerintah relatif kecil. Dari total investasi pada tahun 2007, hanya 12,75 persen (Rp 125,4 trilyun) yang merupakan investasi pemerintah, sedangkan sebagian besar lainnya (87,25 persen atau Rp 858,5 trilyun) merupakan investasi masyarakat.

          Pengaturan tentang kegiatan penanaman modal di Indonesia diatur dalamUU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal. Dalam Pasal 3 ayat (1)huruf a, disebutkan bahwa kegiatan penanaman modal diselenggarakanberdasarkan asas kepastian hukum. Sementara itu yang dimaksud dengan“asas kepastian hukum” adalah asas dalam negara hukum yang meletakkanhukum dan ketentuan peraturan perundang-undangan sebagai dasar dalamsetiap kebijakan dan tindakan dalam bidang penanaman modal

 

 

 

3.2Saran

1.      Beberapa negara sedang berkembang mengalami ketidak stabilan sosial, politik, dan  ekonomi. Ini merupakan sumber yang menghalangi pertumbuhan ekonomi. Adanya pemerintah yang kuat dan berwibawa menjamin terciptanya keamanan dan ketertiban hukum serta persatuan dan perdamaian di dalam negeri. Ini sangat diperlukan bagi terciptanya iklim bekerja dan berusaha yang merupakan motor pertumbuhan ekonomi.

 

2.      Pertumbuhan ekonomi merupakan hasil akumulasi kapital dan investasi yang dilakukan terutama oleh sektor swasta yang dapat menaikkan produktivitas perekonomian. Hal ini tidak dapat dicapai atau terwujud bila tidak didukung oleh adanya barang-barang dan pelayanan jasa sosial seperti sanitasi dan program pelayanan kesehatan dasr masyarakat, pendidikan, irigasi, penyediaan jalan dan jembatan serta fasilitas komunikasi, program-program latihan dan keterampilan, dan program lainnya yang memberikan manfaat kepada masyarakat.

 

 

3.      Rendahnya tabungan-investasi masyarakat (sekor swasta) merupakan pusat atau faktor penyebab timbulnya dilema kemiskinan yang menghambat pertumbuhan ekonomi. Seperti telah diketahui hal ini karena rendahnya tingkat pendapatan dan karena adanya efek demonstrasi meniru tingkat konsumsi di negara-negara maju oleh kelompok kaya yang sesungguhnya bisa menabung

 

.